Kasus Korupsi Haji Bikin NU Gerah, PBNU Tagih KPK Umumkan Tersangka
PBNU desak KPK segera umumkan tersangka kasus korupsi haji Rp1 triliun agar nama NU tidak tercoreng.-Foto: IG @gusyaqut-
JAKARTA, Semaraknews.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lagi-lagi ditodong agar tak lama-lama muter kaset kasus kuota haji. Kali ini yang bersuara adalah A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Abdul Muhaimin. Intinya, ia tak mau kasus ini terus bikin gaduh di dalam NU gara-gara KPK seperti sengaja main tempo.
“Segera umumkan tersangkanya supaya tidak ada kesan KPK memainkan tempo yang membuat resah internal NU, khususnya warga,” ujarnya, Sabtu, 13 September 2025.
Muhaimin juga buru-buru menekankan kalau yang main-main duit haji itu bukan institusi NU, tapi “oknum-oknum PBNU” yang nebeng nama besar organisasi buat ngedapetin cuan. “Jadi, tidak ada kaitan langsung dengan institusi, hanya oknum staf. Karena itu, bila tidak segera diumumkan tersangka, dikesankan KPK sengaja merusak reputasi NU secara kelembagaan,” katanya.
Meski begitu, ia menegaskan para kiai NU nggak ada niat pasang badan. Justru mereka mendukung penuh KPK biar kasus ini kelar dan kalau memang ada petinggi yang ikut nimbrung, ya harus ditelusuri juga. “Itu tugas KPK, kami mendukung dan patuhi penegakan hukum,” katanya.
BACA JUGA:Prabowo Godok Reformasi Polri, Tapi Kalau Kultur Brutal Polri Masih Ada, Tetap Percuma
Sebelumnya, KPK udah ngasih sinyal serius dengan menggandeng PPATK buat ngendus aliran dana, termasuk yang nyangkut ke PBNU. KPK bilang langkah ini bukan buat mendiskreditkan NU, tapi sebatas menjalankan kewajiban buat ngejar balik duit negara yang bocor.
Drama ini naik level setelah KPK resmi mengumumkan penyidikan perkara dugaan korupsi kuota haji Kemenag 2023-2024 pada 9 Agustus 2025. Kebetulan, sehari sebelumnya, mantan Menag Gus Yaqut sempat dipanggil buat dimintai keterangan.
Dari situ, hitung-hitungan awal BPKP bikin kepala geleng-geleng: potensi kerugian negara tembus Rp1 triliun lebih.
Alhasil, KPK langsung pasang larangan bepergian ke luar negeri buat tiga orang, termasuk Gus Yaqut sendiri. Sementara itu, Pansus Angket Haji DPR juga udah lebih dulu nemuin banyak kejanggalan.
BACA JUGA:Prabowo Disanjung Ganteng saat Tinjau Banjir, Malah Lempar Spotlight ke Teddy
Salah satunya, Kemenag di bawah Gus Yaqut dengan entengnya bagi rata kuota tambahan 20 ribu jemaah: 10 ribu buat reguler, 10 ribu buat khusus.
Padahal, Pasal 64 UU Nomor 8 Tahun 2019 jelas-jelas menyatakan kuota haji khusus maksimal 8 persen, sisanya 92 persen buat reguler. Tapi entah kenapa, di atas kertas hukum malah dibikin seperti pembagian pizza: 50-50.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-