Prabowo Rekrut Senior TNI yang Pernah Singkirkan Dia, Balas Dendam atau Rekonsiliasi?
Prabowo angkat Letjen (Purn) Djamari Chaniago sebagai Menko Polkam. Senior TNI yang dulu rekomendasikan pemecatannya kini justru duduk di ring satu.-Foto: IG @presidenrepublikindonesia-
JAKARTA, Semaraknews.co.id – Sosok Djamari Chaniago mendadak jadi sorotan publik setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet pada Rabu, 17 Agustus 2025. Dari balik panggung, nama purnawirawan jenderal ini akhirnya resmi melenggang ke kursi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Sebagai sesama perwira, Djamari dan Prabowo jelas sudah saling mengenal sejak lama. Hanya saja, hubungan keduanya penuh warna, naik-turun sejak masa taruna. Kini, ironisnya, Prabowo justru melantik seniornya itu untuk mengisi kursi Menko Polkam menggantikan Budi Gunawan yang mundur karena alasan kesehatan.
Dalam reshuffle edisi September, Djamari dilantik bersamaan dengan sederet nama lain. Erick Thohir ditarik ke Menpora, M Qodari naik jadi Kepala Staf Kepresidenan, Ahmad Dofiri diplot sebagai penasihat khusus presiden bidang kamtibmas dan reformasi Polri, serta Angga Raka Prabowo yang kini resmi memimpin Badan Komunikasi Pemerintah, lembaga anyar pengganti Kantor Komunikasi Kepresidenan.
BACA JUGA:Strategi Smart Money Mencari Asymmetric Bet di Altcoins: Peluang Minim Risiko, Maksimal Return
Selain itu, ada Afriansyah Noor yang didapuk sebagai Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Rohmat Marzuki sebagai Wakil Menteri Kehutanan, Farida Farichah sebagai Wakil Menteri Koperasi, sementara Sonny Sanjaya dan Nanik S. Deyang dipercaya menjadi wakil kepala Badan Gizi Nasional. Sarah Sadiqa pun ikut masuk line-up dengan jabatan Kepala LKPP.
Khusus untuk Djamari yang pensiun dengan pangkat letnan jenderal dan Dofiri dengan pangkat komisaris jenderal, Prabowo memberi kado spesial sebelum pelantikan: kenaikan pangkat kehormatan jadi jenderal penuh.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut penghormatan itu diberikan karena rekam jejak keduanya yang panjang dan prestasi yang diakui institusi maupun anak buahnya.
Lantas, kenapa Djamari? Menurut Edna C. Pattisina dari Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), jawaban ada pada chemistry. Djamari adalah senior, lulusan Akabri 1971, sementara Prabowo dan Sjafrie Sjamsoeddin sama-sama angkatan 1974.
BACA JUGA:Ratusan Siswa di Banggai Sumsel Tumbang Usai Santap MBG
“Posisi Menko Polkam perlu sosok yang senior dan tentara, tapi enggak punya agenda politik,” kata Edna kepada wartawan, Kamis, 18 September 2025.
Yang bikin cerita makin menarik, Djamari pernah jadi Sekretaris Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang pada 1998 mengirim surat ke Panglima ABRI Jenderal Wiranto, merekomendasikan agar Prabowo dipecat dari militer akibat kasus penculikan aktivis.
Edna menyindir, “Prabowo enggak dendam. Jadi tetap diangkat (Menko Polkam) walaupun perlu dicatat bahwa usianya sudah 76 tahun. Namun, mengingat fungsinya (sebagai menteri koordinator) koordinasi saja, jadi dianggap cocok.”
Seusai pelantikan, Djamari sendiri merespons dengan pernyataan yang penuh dedikasi dan sedikit lirih soal usia. ”Berapa umur saya, ada yang tahu? 77 tahun, sebentar lagi 77 tahun. Gunakan sisa umur itu untuk tetap mengabdi kepada bangsa dan negara. Tidak ada istilah-istilah yang lain,” ujarnya kepada wartawan.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-