IBC Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon Global Lewat Kunjungan Strategis ke Amerika Serikat

IBC Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon Global Lewat Kunjungan Strategis ke Amerika Serikat

IBC Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon Global Lewat Kunjungan Strategis ke Amerika Serikat---Dok. Istimewa

JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Indonesian Business Council (IBC) menegaskan peran Indonesia sebagai pemain utama dalam ekonomi hijau global melalui kunjungan strategis ke Amerika Serikat yang bertepatan dengan New York Climate Week 2025.

Serangkaian dialog dan pertemuan yang digelar selama agenda tersebut berhasil menempatkan potensi Indonesia dalam pasar karbon, energi bersih, dan transisi hijau di panggung internasional.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi IBC untuk memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika pasar karbon global sekaligus menarik arus investasi hijau yang inklusif dan berkeadilan.

BACA JUGA:Hemaviton Fit and Health Festival 2025: Ajak Masyarakat 'Step Up! Be Stand Out!' di Plaza Utara GBK

Dorong Indonesia Jadi “Price Maker” di Pasar Karbon

Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid, menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan wujud nyata komitmen Indonesia untuk naik kelas di pasar karbon dunia.

“Saatnya Indonesia tidak hanya hadir sebagai pemasok carbon credit berkualitas, tetapi juga sebagai pembuat aturan yang menetapkan standar kemitraan dan pembiayaan yang lebih adil,” ujar Arsjad.

Puncak dari kunjungan ini adalah penyelenggaraan “Indonesia Carbon Market Executive Roundtable”, hasil kolaborasi antara IBC, Pemerintah Indonesia, Kadin Indonesia, Intercontinental Exchange (ICE), ASEAN Alliance on Carbon Market (AACM), Indonesia Climate and Growth Dialogue (ICGD), dan Sustainable Energy for All (SEforALL).

Forum ini turut dihadiri oleh Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, serta mempertemukan pejabat pemerintah, pelaku industri, investor global, dan lembaga internasional untuk menyinergikan kesiapan proyek, integritas pasokan karbon, serta konektivitas kebijakan dan infrastruktur.

BACA JUGA:Donat Labu Creamy Juara: Nikmat Manis yang Lebih Sehat dan Penuh Cerita

Menurut Arsjad, tiga faktor utama yang menentukan daya saing Indonesia di pasar karbon global adalah kepastian kebijakan, kualitas kredit karbon yang terverifikasi, dan kecepatan eksekusi proyek.

“Tiga hal itu harus berjalan beriringan agar Indonesia dapat menjadi price maker di kawasan,” tegasnya.

Hingga Agustus 2025, IDXCarbon mencatat total perdagangan mencapai 1,59 juta ton CO₂e dengan nilai hampir Rp78 miliar, menunjukkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap potensi karbon domestik.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya