Bukan Sekadar Safe Haven, Emas dan Perak Punya Potensi Besar di 2025
Geopolitik Memanas dan The Fed Melunak, Saatnya Emas dan Perak Jadi Andalan Portofolio---Dok. Finex
JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Menjelang pergantian tahun, emas dan perak kembali mencuri perhatian pelaku pasar global.
Di tengah sinyal pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat serta meningkatnya tensi geopolitik di berbagai kawasan, dua logam mulia ini menunjukkan peluang penguatan yang dinilai lebih solid dan berjangka panjang dibandingkan siklus sebelumnya.
Bagi investor maupun trader, termasuk pelaku trading emas dan perak di Finex, kondisi ini menjadi momentum strategis untuk membaca arah pasar dan menyiapkan strategi menghadapi tahun baru.
Arah Kebijakan The Fed Jadi Penopang Utama Harga Emas
Pergerakan harga emas dalam beberapa waktu terakhir sangat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed). Laju inflasi Amerika Serikat yang mulai melambat, disertai tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja, memperkuat keyakinan bahwa era pengetatan moneter mendekati titik akhir.
Penurunan imbal hasil riil obligasi AS menjadi faktor kunci yang mendorong minat terhadap emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung diuntungkan ketika opportunity cost menurun.
“Ketika real yield mulai melemah dan pasar melihat peluang pelonggaran moneter, emas secara historis selalu mendapatkan dorongan struktural. Situasi saat ini memiliki kemiripan dengan fase awal reli jangka panjang sebelumnya,” ujar Brahmantya Himawan, Financial Analyst Finex.
BACA JUGA:Tak Perlu Bingung, Ini 5 Air Purifier Paling Worth It untuk Rumah dan Apartemen
Peran Emas Bergeser: Dari Safe Haven ke Aset Strategis
Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, emas tetap mempertahankan perannya sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun, seiring membaiknya prospek ekonomi global secara bertahap, peran emas kini mulai bergeser menjadi bagian dari strategi pertumbuhan nilai portofolio.
Di fase ini, investor tidak hanya mencari perlindungan terhadap risiko, tetapi juga peluang untuk memaksimalkan potensi imbal hasil. Hal tersebut mendorong perhatian pasar meluas ke logam mulia lain yang memiliki karakter lebih agresif, yakni perak.
Perak, Logam Mulia dengan Karakter Hybrid
Berbeda dengan emas, perak memiliki dua peran sekaligus—sebagai logam mulia dan sebagai komoditas industri. Permintaan perak terus meningkat seiring berkembangnya sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, dan teknologi.
Lonjakan kebutuhan industri membuat kinerja perak dalam setahun terakhir cenderung melampaui emas. Masuknya perak ke dalam daftar critical minerals di Amerika Serikat turut memperkuat prospek jangka menengah hingga panjang.
Dalam skenario optimistis, harga emas diproyeksikan bergerak di kisaran USD 4.700–5.000 per troy ounce, sementara perak berpotensi mencapai USD 90–120 per troy ounce pada 2026.
“Perak saat ini berada di titik menarik antara kebutuhan industri dan minat investasi. Kombinasi ini membuat pergerakannya cenderung lebih agresif, terutama ketika siklus ekonomi mulai berubah arah,” tambah Brahmantya.
Strategi Emas dan Perak Menyambut Tahun Baru
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-