Harga Minyak Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Mobil Listrik Melesat, LCGC Tertekan

Harga Minyak Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Mobil Listrik Melesat, LCGC Tertekan

NETA di GIIAS 2024: Raih 327 SPK dan Sukses Tampilkan Berbagai Segmen Mobil Listrik---Istimewa

SEMARAKNEWS.CO.ID - Eskalasi konflik di Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap industri otomotif global, termasuk di Indonesia.

Lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang mengubah perilaku konsumen, terutama dalam memilih kendaraan.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menyebut bahwa perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu tekanan ekonomi global.

Harga minyak Brent disebut melonjak ke kisaran US$100–117 per barel, diikuti pelemahan nilai tukar rupiah hingga sekitar Rp16.900 per dolar AS serta kenaikan biaya logistik.

LCGC Terpukul, Daya Beli Masyarakat Melemah

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pasar mobil entry-level, khususnya segmen low cost green car (LCGC). Daya beli masyarakat kelas menengah yang menjadi tulang punggung pasar ini mulai tergerus.

Data dari Gaikindo menunjukkan bahwa penjualan wholesales LCGC pada Januari–Februari 2026 hanya mencapai 22.106 unit, turun 21,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 28.147 unit.

BACA JUGA:Hyundai Hentikan Penjualan Palisade 2026, Ini Penyebab dan Dampaknya

Menurut Yannes, fenomena ini merupakan dampak dari cost-push inflation, di mana kenaikan biaya produksi dan distribusi ikut mendorong harga barang, sehingga konsumen memilih menunda pembelian kendaraan baru.

Mobil Listrik Melonjak Tajam

Di sisi lain, tren berbeda justru terjadi pada kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Penjualannya mengalami lonjakan signifikan.

Sepanjang Januari–Februari 2026, penjualan BEV tercatat mencapai 22.508 unit, meningkat hingga empat kali lipat secara tahunan, dengan pangsa pasar sekitar 15 persen.

Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen terhadap efisiensi biaya operasional kendaraan listrik, yang dinilai jauh lebih hemat dibandingkan mobil berbahan bakar fosil.

Pertumbuhan pesat pasar kendaraan listrik di Indonesia tak lepas dari peran pabrikan global, terutama dari China. Beberapa merek seperti BYD, Wuling, Changan, hingga Jaecoo menjadi pemain utama di segmen ini.

Model-model yang ditawarkan relatif terjangkau dengan fitur modern, sehingga menarik minat konsumen kelas menengah hingga atas.

EV Lebih Hemat Hingga 70 Persen

Salah satu faktor utama yang mendorong peralihan ke mobil listrik adalah efisiensi biaya kepemilikan. Yannes menyebut total cost of ownership kendaraan listrik bisa lebih hemat 60–70 persen dibandingkan kendaraan konvensional.

Efisiensi ini mencakup biaya bahan bakar, perawatan, hingga pajak yang cenderung lebih rendah.

“Dalam jangka panjang, BEV berpotensi menjadi pemenang dalam lanskap industri otomotif,” jelasnya.

Melihat tren ini, Indonesia dinilai perlu mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Hal ini penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak di tengah ketidakpastian global.

Sejumlah produsen sudah mulai berinvestasi di dalam negeri. BYD misalnya, tengah mempersiapkan pabrik di Subang dengan kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun.

BACA JUGA:Yamaha RX King Reborn 2026 Resmi Meluncur, “Raja Jalanan” Kembali dengan Mesin 155cc VVA!

Selain itu, produsen asal Vietnam, VinFast, juga telah menanamkan investasi lebih dari US$300 juta dengan kapasitas awal sekitar 50.000 unit per tahun di lokasi yang sama.

Dalam jangka menengah, VinFast bahkan menargetkan peningkatan kapasitas hingga 350.000 unit per tahun untuk memenuhi pasar domestik dan ekspor.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik global tidak hanya membawa risiko, tetapi juga menjadi katalis percepatan transisi energi, termasuk di sektor transportasi.

Kenaikan harga minyak membuat kendaraan listrik tidak lagi sekadar alternatif, tetapi mulai menjadi pilihan utama bagi sebagian konsumen.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya