BEM Unair Sentil Rezim di Depan Ribuan Maba! Poster Mahasiswa Hilang 1998 Dibentang

BEM Unair Sentil Rezim di Depan Ribuan Maba! Poster Mahasiswa Hilang 1998 Dibentang

BEM Unair bentangkan poster mahasiswa hilang 1998 saat penyambutan maba dan tampilkan kritik terhadap pemerintah lewat videotron di kampus.-Foto: Dok. BEM Unair-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Penyambutan mahasiswa baru Universitas Airlangga (Unair) tahun ini tak sekadar diisi seremoni. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unair memilih membuka orientasi dengan mengingatkan ribuan mahasiswa baru pada luka lama yang belum juga sembuh, yakni hilangnya dua mahasiswa Unair pada masa Reformasi 1998.

Di tengah prosesi pengukuhan mahasiswa baru yang berlangsung Kamis, 30 Juli 2026, pengurus BEM Unair membentangkan poster berukuran 5 x 1 meter bertuliskan “Kembalikan Herman-Bimo, Mahasiswa Unair yang dinyatakan hilang sejak 1998”. Aksi itu dilanjutkan dengan orasi yang menyebut Herman Hendrawan dan Petrus Bima Anugrah sebagai korban penghilangan paksa pada era Orde Baru.

Ketua BEM Unair M Rizqi Senja Virawan mengatakan aksi tersebut sengaja dilakukan agar mahasiswa baru mengetahui bahwa kampus mereka pernah kehilangan dua aktivis yang hingga kini tak pernah kembali.

“Mereka hilang dan belum kembali hingga kini,” kata Senja kepada Tempo, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Menurut Senja, kisah Herman dan Bimo menjadi bukti bahwa tradisi gerakan mahasiswa di Unair telah tumbuh sejak lama. Bahkan, kampus tersebut ikut mencatat sejarah kelam Reformasi ketika dua mahasiswanya menghilang dalam pusaran pergolakan politik 1998.

BACA JUGA:Istana Panggil 150 Bos Besar di Tengah Ekonomi yang Lesu, Prabowo Kumpulkan Kadin Cari Jalan Selamat

Gagasan mengangkat isu tersebut berasal dari Kementerian Sosial Politik BEM Unair. Menterinya, Daniel Nikon Martua Situmorang, mengatakan setiap penyambutan mahasiswa baru selalu disertai isu tertentu. Bedanya, tahun ini mereka memilih berkaca ke dalam dengan mengangkat sejarah yang dinilai mulai terlupakan.

“Tahun lalu kami mengangkat isu eksternal atau pemerintah. Sekarang kami fokus pada isu internal karena Herman dan Bimo sudah hilang sejak 1998 dan tampaknya kampus juga kurang merawat ingatan terhadap peristiwa tersebut,” ujarnya.

Daniel menilai para aktivis Unair yang berjuang pada masa Reformasi perlahan tenggelam dari ingatan kampus. Kondisi itu, menurutnya, berbeda dengan sejumlah kampus di Jakarta seperti Trisakti yang terus menjaga memori atas para mahasiswa yang gugur maupun hilang dalam perjuangan Reformasi.

Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa Unair saat ini yang bahkan tidak lagi mengenal sosok Herman Hendrawan maupun Petrus Bima Anugrah.

Lewat aksi tersebut, BEM berharap mahasiswa baru memahami sejarah gerakan mahasiswa di kampusnya sendiri sekaligus ikut menjaga ingatan kolektif terhadap dua aktivis tersebut.

BACA JUGA:PDIP Ingatkan DPR Jangan Telan Mentah Klaim Prabowo di Sidang Tahunan

“Kalau bukan kami yang mengenalkan, siapa lagi yang akan merawat ingatan tentang Mas Herman dan Mas Bimo,” kata mahasiswa Fakultas Hukum Unair itu.

Tak berhenti pada poster, BEM Unair juga menampilkan sederet kalimat bernada kritik melalui videotron di lokasi pengukuhan. Beberapa di antaranya berbunyi “Indonesia Emas atau Cemas”, “Mana 19 Juta Lapangan Pekerjaan yang Kau Janjikan?”, “Presiden Antek Zionis, Free Palestine”, “Tindak Tegas Korupsi Kebun Binatang Surabaya”, serta “Melindungi tanpa Membedakan. Memanusiakan tanpa Mengecualikan”.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya