Elektabilitas Dedi Mulyadi Meledak, Prabowo Terancam Jadi Penonton di 2029?

Elektabilitas Dedi Mulyadi Meledak, Prabowo Terancam Jadi Penonton di 2029?

Elektabilitas Dedi Mulyadi melejit 42 persen dalam survei Tempo Data Science, jauh di atas Prabowo, Anies, dan Gibran menjelang Pilpres 2029.-Foto: Antara-

Karena itu, jika benar-benar ingin maju sebagai calon presiden pada 2029, Dedi harus mencari dukungan partai politik. Persoalannya, memperoleh dukungan dari partainya sendiri bukan perkara mudah jika Gerindra sudah menetapkan Prabowo sebagai kandidat.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah melihat faktor lain yang membuat elektabilitas Dedi melesat, yaitu populisme dan kemampuan memanfaatkan media sosial.

Menurut dia, politik elektoral masih sangat dipengaruhi ketokohan personal. Figur yang mampu membangun kesan dekat dengan masyarakat, melakukan sesuatu yang dianggap luar biasa, serta menunjukkan kepedulian dan kedermawanan cenderung lebih mudah mendapat perhatian pemilih.

Pola semacam itu pernah terlihat dalam kemenangan Joko Widodo pada Pilpres 2014 dan 2019. Dedi Kurnia menilai Dedi Mulyadi berhasil mengadopsi formula tersebut.

“Dedi Mulyadi berhasil mereplikasi yang sudah dilakukan Jokowi dalam hal memupuk kesukaan publik,” ucapnya pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Menurut Dedi Kurnia, Prabowo juga sempat menggunakan pendekatan serupa ketika mengikuti Pilpres 2024. Namun setelah menjadi presiden, aktivitas Prabowo lebih banyak berada dalam ruang formal pemerintahan.

Dedi Mulyadi justru mengambil jalur yang berbeda. Ia tetap tampil dalam berbagai kegiatan informal yang kemudian didokumentasikan dan disebarkan melalui media sosial.

Salah satu contohnya adalah ketika Dedi mengunjungi korban gempa di Nusa Tenggara Timur pada Jumat, 21 Agustus 2026. Kunjungan tersebut kemudian diunggah melalui akun Instagram dan YouTube miliknya.

Salah satu video di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel yang memperlihatkan kunjungannya kepada korban gempa dan penyaluran bantuan telah ditonton sekitar 339 ribu kali hingga Rabu malam, 26 Agustus 2026. Video lainnya dari kunjungannya ke NTT bahkan telah ditonton 946 ribu kali.

Ada satu detail yang membuat kunjungan tersebut semakin menarik dalam kalkulasi politik. Dedi datang ke lokasi gempa lebih dulu dibandingkan Prabowo.

Prabowo baru mengunjungi lokasi gempa di Pulau Flores pada Rabu, 26 Agustus 2026, atau 11 hari setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.

Bagi Dedi Kurnia, setiap momentum yang berhasil menarik perhatian publik dapat berubah menjadi panggung politik, termasuk ketika momentum tersebut berada di luar wilayah kekuasaan Dedi sebagai gubernur.

“Siapa pun hari ini yang berhasrat mendapatkan perhatian publik harus mengikuti tren yang dibangun Jokowi. Sekarang hanya Dedi Mulyadi yang berhasil mengikuti persis cara Jokowi membangun citra,” ujarnya.

Tempo telah berupaya meminta tanggapan Dedi Mulyadi melalui sekretaris pribadinya, Ahmad. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan atas pertanyaan yang diajukan.

Dari kubu Gerindra, kenaikan elektabilitas Dedi tidak dianggap sebagai ancaman bagi Prabowo. Juru bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso justru melihat hasil tersebut sebagai bukti bahwa partainya berhasil melahirkan kader yang dipercaya masyarakat.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya