Industri Olahraga Bernilai USD 521 Miliar, Pemerintah Mau Ikut Panen Cuan Rp 9.326 Triliun

Industri Olahraga Bernilai USD 521 Miliar, Pemerintah Mau Ikut Panen Cuan Rp 9.326 Triliun

Industri olahraga global bernilai USD 521 miliar. Pemerintah mendorong investasi olahraga dan sport tourism untuk menggerakkan ekonomi nasional.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Industri olahraga ternyata bukan cuma perkara mengejar medali, menggelar pertandingan, atau menjual jersey pemain. Di balik gemerlap stadion dan sorak penonton, ada bisnis raksasa yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar. Pemerintah pun mulai melihat sektor ini sebagai ladang investasi yang bisa ikut mengerek ekonomi nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani memperkirakan nilai industri olahraga global mencapai USD 521 miliar atau sekitar Rp 9.326 triliun dengan kurs Rp 17.900 per dolar AS. Angka tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah ingin memperkuat kerja sama investasi di sektor olahraga.

Menurut Rosan, duit yang berputar di industri olahraga tidak berhenti pada bisnis olahraganya sendiri. Kegiatan olahraga juga bisa menggerakkan pariwisata, bisnis lokal, transportasi, hingga berbagai industri pendukung lainnya.

“Dampaknya tidak hanya terhadap kota yang mempunyai kegiatan tersebut, tetapi juga mempunyai dampak secara keseluruhan pada perekonomian. Bukan hanya dari segi olahraga, tetapi juga memberi dampak pada segi pariwisata dan industri lainnya,” ujar Rosan dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu, 29 Agustus 2026, dikutip dari Antara.

Upaya menggarap potensi tersebut mulai diwujudkan melalui kerja sama pemerintah. Sehari sebelumnya, Rosan bersama Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menandatangani Nota Kesepahaman tentang Sinergi Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko dan Pengembangan Investasi Sektor Keolahragaan di Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.

BACA JUGA:Pengungsi Gempa NTT Meledak Jadi 21.552 Orang, Data BNPB Mendadak Naik 16 Ribu!

Bagi Rosan, urusan investasi tidak cukup hanya dengan menawarkan potensi pasar yang besar. Investor juga membutuhkan regulasi yang jelas dan proses perizinan yang tidak membuat mereka keburu tua di ruang tunggu birokrasi.

Pemerintah karena itu ingin mengintegrasikan layanan perizinan sekaligus membuka lebih banyak pintu investasi di berbagai bidang olahraga. Salah satu yang ditonjolkan adalah mekanisme perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS).

“Dengan adanya PP No 28 Tahun 2025, kami diberikan kewenangan apabila dalam waktu yang sudah disepakati sesuai service level agreement (SLA), perizinan dari kementerian lain belum keluar, maka sistem OSS secara otomatis menerbitkan izinnya. Itu juga yang memberikan kepastian dari sisi perizinan. Sejak ketentuan itu diberlakukan, kami sudah menerbitkan lebih dari 250 perizinan melalui mekanisme fiktif positif,” ucap Rosan.

Erick melihat peluang ekonominya masih jauh lebih besar. Ia menyebut industri olahraga global tumbuh sekitar 8 persen setiap tahun, laju yang menurutnya melampaui pertumbuhan ekonomi banyak negara.

“Sport industry itu kurang lebih nilainya USD 521 miliar atau Rp 9.326 triliun. Pertumbuhan setiap tahun 8 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi banyak negara. Belum sport tourism, yang nilainya hampir USD 600 miliar atau sekitar Rp 10.740 triliun dan ini juga pertumbuhannya signifikan,” ujar Erick.

Besarnya angka tersebut membuat pemerintah tidak hanya membidik investasi langsung di sektor olahraga. Pariwisata olahraga juga ikut dipandang sebagai ceruk bisnis yang menjanjikan, terutama karena sebuah pertandingan atau ajang olahraga bisa mendatangkan penonton, wisatawan, sponsor, serta aktivitas ekonomi lain dalam waktu bersamaan.

Melalui nota kesepahaman itu, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM bersama Kemenpora menyepakati sejumlah agenda. Kerja sama mencakup penyelarasan kebijakan perizinan usaha berbasis risiko di sektor olahraga, peningkatan pelayanan dan pengawasan melalui OSS, pengembangan kompetensi sumber daya manusia, serta pertukaran data dan informasi perizinan.

Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk mencari dan mengembangkan peluang investasi sekaligus memperkuat promosi penanaman modal di bidang keolahragaan. Target akhirnya adalah membangun ekosistem industri olahraga nasional yang lebih siap menerima duit investor, dengan layanan perizinan yang setidaknya tidak menjadi penghalang pertama sebelum pertandingan dimulai.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya