Mahasiswa RI Disuruh Bersiap, Green Jobs Bakal Jadi Ladang Kerja Baru
Green jobs diprediksi membuka 3,88 juta peluang kerja di 2026. Mahasiswa diminta mengasah pola pikir riset dan keterampilan teknis sejak dini.-Foto: Antara-
JAKARTA, Semaraknews.co.id — Dunia kerja sedang pelan-pelan mengganti seragamnya. Pekerjaan yang berkaitan dengan ekonomi hijau atau green jobs diproyeksikan makin banyak dibutuhkan, sementara mahasiswa Indonesia diminta tidak cuma sibuk mengejar ijazah. Mereka juga harus membekali diri dengan kemampuan berpikir, membaca data, dan keterampilan teknis yang relevan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan mahasiswa perlu mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan tersebut. Menurut dia, green jobs membutuhkan kemampuan kognitif yang kuat sehingga generasi muda harus mampu beradaptasi melalui pendidikan formal sekaligus keterampilan teknis.
Stella menilai perguruan tinggi punya pekerjaan rumah untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang berubah. Salah satu fondasi yang menurut dia perlu ditanamkan adalah research mindset atau pola pikir riset.
Pola pikir riset, kata Stella, tidak berarti seluruh mahasiswa harus bercita-cita menjadi peneliti. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk merumuskan pertanyaan dengan tepat, mencari jawaban secara sistematis, lalu menggunakan data dan logika untuk mengujinya.
“Memiliki pola pikir riset bukan berarti Anda akan menjadi seorang peneliti. Ini berarti mampu mengajukan pertanyaan yang tepat dan menjawabnya secara sistematis menggunakan data serta logika,” ujar Stella.
BACA JUGA:Perang Sowan Calon Ketua PBNU, Restu Kiai Jadi Rebutan
Ia juga meminta sektor green jobs diperkenalkan lebih luas kepada mahasiswa. Menurut Stella, energi panas bumi atau geothermal energy dan hidrogen alami atau natural hydrogen merupakan dua bidang yang punya peluang besar dan perlu lebih dikenal generasi muda Indonesia.
Potensi kerja sama antara kampus dan industri pun masih terbuka lebar. Kolaborasi tersebut bisa dilakukan melalui penyediaan kursus, pengembangan metode pembelajaran, hingga penyelenggaraan lokakarya yang membuat mahasiswa lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
“Pintu kami di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terbuka lebar untuk menciptakan kursus, metode pengajaran, dan lokakarya di universitas-universitas,” tegasnya.
Green jobs sendiri tidak melulu berarti munculnya profesi baru dengan embel-embel hijau. Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan perubahan menuju ekonomi hijau juga bakal mengubah karakter sejumlah pekerjaan yang selama ini sudah ada.
Teknisi listrik, operator produksi, staf pengadaan, hingga petugas keselamatan dan kesehatan kerja atau K3, misalnya, berpotensi masuk dalam ekosistem green jobs. Jadi, jangan membayangkan pekerjaan hijau hanya soal orang-orang yang sibuk menanam pohon sambil membawa tumbler.
BACA JUGA:Hercules Muncul di Tengah Kerusuhan Demo Jakarta, GRIB Jaya Bilang Cuma Pantau Situasi
Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan memperkirakan ekonomi hijau dapat membuka peluang kerja bagi sekitar 3,88 juta orang di Indonesia sepanjang 2026. Proyeksi tersebut mengacu pada data Employment Outlook 2026.
Angka itu menunjukkan bahwa pergeseran menuju ekonomi hijau bukan lagi sekadar jargon yang enak dipajang dalam seminar kampus. Lapangan kerja ikut bergerak ke arah sana, dan mahasiswa yang tidak menyiapkan kemampuan teknis serta cara berpikir yang sesuai berisiko cuma menjadi penonton ketika pekerjaan baru mulai bermunculan.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-