Gempa NTT Belum Usai, 114 Murid Belajar di Tenda: Sekolah Retak, Trauma Mengintai

Gempa NTT Belum Usai, 114 Murid Belajar di Tenda: Sekolah Retak, Trauma Mengintai

114 murid SDK Wancang kembali belajar di tenda darurat usai gempa NTT. Sekolah retak dan siswa masih trauma terhadap gempa susulan.-Foto: Dok. BNPB-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Tiga tenda berukuran 5x7 meter berdiri di lapangan SDK Wancang, Desa Ladur, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu pagi, 2 September 2026. Bukan untuk acara seremonial atau hajatan warga, tenda terpal biru dengan rangka bambu itu kini berubah fungsi menjadi ruang kelas darurat bagi para murid yang kembali belajar setelah gempa mengguncang NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Hari itu menjadi kali pertama siswa-siswi SDK Wancang kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar secara tatap muka setelah bencana. Sekolah memilih lapangan sebagai ruang belajar lantaran kondisi bangunan sekolah belum cukup aman untuk digunakan.

“Kami melaksanakan di dalam posko darurat pasca gempa. Kami melaksanakan dengan penuh semangat,” kata Guru WDK Wancang, Andi, saat dihubungi pada Rabu, 2 September 2026.

Setiap tenda hanya diisi sekitar 5 hingga 10 siswa. Meja dan kursi ditata membentuk huruf U, menghadap sebuah papan tulis. Soal fasilitas, jangan ditanya. Tenda tersebut bahkan tidak memiliki dinding pelindung sehingga sinar matahari bisa langsung menyambar wajah anak-anak ketika pelajaran berlangsung.

“Meski banyak kekurangan tapi anak-anak senang bisa ketemu dengan teman-temannya,” ujar Andi.

Untuk sementara, ruang kelas permanen masih menjadi tempat yang dihindari. Dinding bangunan sekolah yang mengalami retak membuat para guru khawatir jika gempa susulan kembali terjadi. Anak-anak pun belum sepenuhnya pulih dari rasa takut akibat bencana.

“Anak-anak masih trauma,” katanya.

BACA JUGA:Gunung Sinabung Status Siaga, Aktivitas Warga Tetap Berjalan di Tengah Ancaman Erupsi

SDK Wancang tercatat memiliki 114 siswa. Karena kegiatan belajar dilakukan di tenda darurat dengan keterbatasan ruang, sekolah menerapkan jadwal masuk bergantian. Pada Rabu dan Jumat, siswa kelas 1, 3, dan 5 masuk sekolah. Sementara kelas 2, 4, dan 6 mendapat jadwal belajar pada Selasa dan Kamis.

“Supaya kami bisa mengawasi anak tidak bermain di dalam gedung,” kata Andi.

Hari pertama masuk sekolah juga tidak langsung diisi dengan pelajaran seperti biasa. Para guru lebih dulu berusaha memulihkan kondisi psikologis anak-anak melalui kegiatan trauma healing. Sebab bagi mereka, kembali ke sekolah bukan sekadar soal membuka buku dan mendengarkan guru, tetapi juga belajar merasa aman lagi setelah gempa.

Andi berharap pemerintah dapat menyalurkan tenda yang lebih layak agar kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung lebih nyaman. Maklum, belajar di tengah terpal dengan matahari yang masuk langsung tentu bukan gambaran ideal pendidikan, kecuali definisi ruang kelas darurat memang sengaja dibuat sesederhana mungkin.

Kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak gempa NTT sendiri mulai kembali digelar pada Senin, 31 Agustus 2026. Kebijakan tersebut diterapkan setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada 15 Agustus 2026.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan metode pembelajaran disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Sekolah yang bangunannya masih dalam kondisi baik dapat menggelar pembelajaran tatap muka. Sementara sekolah yang mengalami kerusakan berat diperbolehkan menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya