Erupsi Anak Krakatau Ganggu Kesehatan, Ini Pesan Menkes untuk Warga Jika Terkena Dampak

Erupsi Anak Krakatau Ganggu Kesehatan, Ini Pesan Menkes untuk Warga Jika Terkena Dampak

Erupsi Anak Krakatau Ganggu Kesehatan, Ini Pesan Menkes untuk Warga Jika Terkena Dampak--Postingnews

SEMERAKNEWS.CO.ID - Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau menyelimuti sejumlah wilayah dan menimbulkan risiko bagi kesehatan. Pada Minggu, 6 September 2026 pukul 08.00 WIB, BMKG mencatat sebaran abu telah mencapai Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga Bengkulu pada ketinggian 20.000–50.000 kaki.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meningkat sejak Jumat, 4 September 2026. Selain mengganggu kegiatan masyarakat, sebaran abu berdampak pada transportasi udara. Operasional Bandara Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara akibat kondisi tersebut.

BACA JUGA:Gawat! Gas SO2 Anak Krakatau Bergerak ke Daratan, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai Warga

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut tiga bagian tubuh yang paling berisiko terdampak abu vulkanik, yakni saluran pernapasan, mata, dan kulit. Partikel abu dapat membuat mata gatal atau mengalami iritasi. Pada kulit, paparan dapat memicu rasa gatal dan ketidaknyamanan.

Menkes mengimbau masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah untuk menjaga pernapasan. Jika aktivitas luar ruangan tidak dapat dihindari, warga perlu memakai perlindungan yang sesuai dan memperhatikan reaksi tubuh selama berada di area dengan kualitas udara buruk.

Untuk perlindungan dari paparan abu vulkanik, gunakan masker KN95 atau yang setara. Kacamata pelindung juga dianjurkan ketika harus berada di luar ruangan. Apabila abu masuk ke mata, jangan menguceknya. Bilas mata menggunakan air dan segera mencari bantuan ke puskesmas jika keluhan berlanjut; puskesmas disebut telah menerima obat tetes mata untuk penanganan.

BACA JUGA:Karhutla Sumsel Belum Usai, Polri Andalkan 4.000 liter Formula X-Fire dalam Pengendalian Api Secara Cepat

Kulit yang terkena abu sebaiknya segera dibilas dengan air. Warga juga perlu mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, terutama ketika udara semakin buruk. Aktivitas fisik dapat meningkatkan frekuensi napas sehingga lebih banyak partikel berpotensi masuk ke saluran pernapasan.

Pemantauan informasi resmi menjadi bagian penting dari perlindungan diri. Arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin dan atmosfer. Karena itu, warga sebaiknya mengikuti pembaruan BMKG, pemerintah daerah, serta layanan kesehatan sebelum memutuskan bepergian atau beraktivitas di luar rumah.

BACA JUGA:PJJ Mulai Berlaku 7 September Dampak Erupsi Anak Krakatau, Program MBG Berhenti Menunggu Kondisi Daerah

 

Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian lebih. Mereka sebaiknya berada di ruang tertutup dengan ventilasi yang aman dan tidak keluar tanpa kebutuhan mendesak. Perubahan kondisi tubuh perlu segera disampaikan kepada tenaga kesehatan agar penanganan tidak terlambat.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya