TPA Indonesia Jadi Bom Metana, 312 Tempat Sampah Masih Open Dumping, Walhi Bongkar Ancaman Kebakaran

TPA Indonesia Jadi Bom Metana, 312 Tempat Sampah Masih Open Dumping, Walhi Bongkar Ancaman Kebakaran

Walhi mengungkap 312 TPA di Indonesia masih open dumping. Emisi metana dan ancaman kebakaran meningkat di tengah krisis iklim.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Tempat pembuangan akhir alias TPA mestinya menjadi tempat berakhirnya urusan sampah. Namun, di Indonesia, tempat ini justru berpotensi menjadi pabrik gas metana yang terus bekerja, bahkan ketika sampahnya sudah bertahun-tahun ditimbun. Walhi pun kembali mempertanyakan tata kelola persampahan nasional yang tak kunjung beres.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) memperkirakan emisi metana dari TPA di Indonesia masih meningkat. Jika pola pengelolaan sampah tidak segera diubah, emisi tersebut berpotensi melonjak hingga dua kali lipat dalam 25 tahun mendatang. Jadi, persoalannya bukan sekadar sampah menumpuk dan bau, melainkan juga gas rumah kaca yang terus dilepaskan ke atmosfer.

Pengampanye Urban WALHI Nasional, Wahyu Eka Styawan, mengatakan persoalan ini semakin genting selama musim kemarau 2026. Timbunan sampah yang telah lama mengendap tetap mengalami pembusukan dan menghasilkan metana. Sampah lama rupanya tidak benar-benar selesai ketika sudah dibuang.

“Sampah yang telah ditimbun selama bertahun-tahun tetap membusuk dan menghasilkan metana,” ujar Wahyu melalui keterangan tertulis pada Kamis, 10 September 2026.

Sepanjang 2026, Walhi mencatat kebakaran terjadi di 15 TPA. Daftarnya tersebar dari Batam hingga Solo, meliputi TPA Telaga Punggur di Batam, TPA Jatiwaringin di Tangerang, TPA Pakusari di Jember, TPA Cipayung di Depok, TPA Sumur Batu di Bekasi, TPA Cikolotok di Purwakarta, TPA Benowo di Surabaya, TPA Dengung di Lebak, TPA Troketon di Klaten, dan TPA Malabar di Cilacap.

Kebakaran juga tercatat di TPA Kota Sorong, TPA Ciniru di Kuningan, TPA Nangkaleah di Tasikmalaya, serta TPA Putri Cempo di Solo. Daftar tersebut menunjukkan bahwa problem pengelolaan sampah bukan monopoli satu kota atau satu provinsi. Ketika sampah dibiarkan menumpuk tanpa pengelolaan memadai, risikonya bisa muncul di mana saja.

BACA JUGA:Tujuh Gunung di Jatim Dibakar Api, Ulah Manusia Lagi-Lagi Jadi Tersangka

Menurut Wahyu, emisi metana akan terus meningkat selama praktik pembuangan terbuka atau open dumping masih dipertahankan. Setiap musim kemarau panjang berpotensi menghadirkan kebakaran serupa, bahkan lebih besar, karena akumulasi gas metana di dalam timbunan sampah semakin tinggi.

“Setiap kemarau panjang akan terus menghadirkan risiko kebakaran serupa, bahkan lebih besar, seiring meningkatnya akumulasi gas metana,” tuturnya.

Data Walhi menunjukkan sekitar 60,7 persen atau 312 TPA di Indonesia masih menggunakan metode open dumping tanpa pengelolaan gas yang memadai. Padahal, penghentian praktik tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Masalahnya, aturan sudah ada, tetapi pelaksanaannya belum menyeluruh.

Dalam sistem open dumping, sampah dibuang begitu saja tanpa pengelolaan yang memadai. Timbunan sampah organik kemudian membusuk dan menghasilkan metana dalam jumlah besar. Ketika musim kering datang, kebakaran TPA menjadi lebih mudah terjadi dan sulit dipadamkan karena api bisa membara di lapisan bawah timbunan.

Walhi juga melakukan simulasi terbaru menggunakan metode First Order Decay (FOD) sesuai Pedoman IPCC 2006. Hasil perhitungan menunjukkan emisi metana bersih TPA nasional pada 2025 mencapai 334.109 ton, setara dengan 9,02 juta ton CO2e. Perhitungan tersebut menggunakan data timbulan dan komposisi sampah dari 512 kabupaten dan kota selama periode 2020-2025.

BACA JUGA:200 Juta Rekening Dibuka, Warga Dapat Saldo Rp50 Ribu, Ekonom Sentil Pemerintah Jangan Cuma Kejar Angka!

Angka tersebut memperlihatkan bahwa sampah bukan cuma persoalan kebersihan lingkungan. Ia juga berkaitan langsung dengan krisis iklim. Ketika gas metana terus dilepaskan dari timbunan sampah, dampaknya tidak berhenti di sekitar pagar TPA.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya