Buku Islam ala Prabowo Bikin Heboh, Nama Tokoh Dicatut, Dalil Transparansi Malah Hilang

Buku Islam ala Prabowo Bikin Heboh, Nama Tokoh Dicatut, Dalil Transparansi Malah Hilang

Buku Islam ala Prabowo menuai polemik setelah sejumlah tokoh mengaku namanya dicantumkan tanpa izin. Baznas dan MUI ikut buka suara.-Foto: Instagram-

JAKARTA, Semaraknews.co.id — Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam tengah menjadi bahan perbincangan. Bukan karena isinya berhasil menjelaskan hubungan antara kepemimpinan Prabowo Subianto dan nilai-nilai Islam, melainkan karena sejumlah nama yang tercantum sebagai penulis mengaku tidak pernah memberikan izin.

Buku setebal 368 halaman itu diterbitkan Atmosphere Publishing House pada 14 Juli 2025. Isinya memuat pandangan sejumlah tokoh agama dan akademikus mengenai karakter serta kepemimpinan Prabowo. Masalahnya, sebagian tokoh yang namanya dipajang dalam buku justru mengaku tidak tahu-menahu bagaimana hasil wawancara mereka bisa berakhir menjadi bagian dari proyek tersebut.

Nama-nama yang tercantum antara lain Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra, tokoh Muhammadiyah sekaligus mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, serta tokoh Nahdlatul Ulama Muhammad Abdurrahman Al Kautsar.

Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, menjadi salah satu tokoh yang mempersoalkan pencantuman namanya. Ia mengaku tidak pernah mengetahui bahwa percakapan yang berlangsung pada 2024 akan dimasukkan ke dalam buku berjudul Islam ala Prabowo.

“Dulu seingat saya tahun 2024 kami berbincang setelah quick count. Prabowo sudah jadi presiden terpilih,” ujar Kautsar kepada wartawan pada Senin, 7 September 2026.

Kautsar membenarkan pernah diwawancarai Mush’ab Muqoddas, salah satu penyusun buku. Ketika itu, Mush’ab datang ke rumahnya bersama keluarga untuk berbincang santai. Tidak ada pembicaraan khusus mengenai proyek penerbitan buku maupun rencana membahas keislaman Prabowo.

BACA JUGA:BNPB Bilang Duit Bencana Tak Terbatas, Tapi Anggarannya Amblas Rp4,4 Triliun

Menurut Kautsar, topik yang dibahas lebih luas, mulai dari hubungan Islam dan negara, kebinekaan, peran pesantren dalam kehidupan kebangsaan, hingga program-program Prabowo yang saat itu berstatus sebagai presiden terpilih. Ia merasa persoalannya bukan pada jawaban yang pernah diberikan, melainkan pada bagaimana wawancara tersebut kemudian digunakan.

“Saya keberatan kalau jadinya seperti ini. Apalagi dengan judul yang seperti itu. Saya juga kaget, kok tahu-tahu saya jadi penulis. Saya juga baru ingat ini dari hasil wawancara setelah ramai di media sosial,” kata Kautsar.

Ia menilai proses tersebut tidak cukup transparan, terutama ketika hasil percakapan pribadi tiba-tiba tampil sebagai tulisan dalam buku yang membawa nama besar seorang presiden. Menurut Kautsar, persoalan itu semakin pelik karena judul Islam ala Prabowo seolah menyederhanakan Islam menjadi identitas personal seseorang.

“Enggak bisa ini. Orang yang sudah diakui kealimannya, luar biasanya dalam berislam, kan enggak begitu langsung bisa mengatakan Islam ala siapa. Islam itu Ahlussunnah wal Jama’ah. Enggak bisa personal begitu,” katanya.

Keberatan serupa disampaikan Muhadjir Effendy. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengaku terkejut ketika mengetahui namanya dicantumkan sebagai penulis buku tersebut.

Muhadjir memang pernah diwawancarai mengenai pandangannya terhadap pemahaman Prabowo tentang keislaman. Namun, menurut dia, wawancara itu sudah diterbitkan dalam buku lain. Ia tidak merasa pernah memberikan tulisan untuk buku Islam ala Prabowo.

BACA JUGA:Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok usai Demo, Polisi Ungkap Tiga Tersangka dan Motifnya

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya