Sarjana Makin Banyak, Kerjaan Makin Susah, JK Sentil Kampus yang Cuma Jago Cetak Ijazah

Sarjana Makin Banyak, Kerjaan Makin Susah, JK Sentil Kampus yang Cuma Jago Cetak Ijazah

Jusuf Kalla menyoroti ketimpangan jumlah sarjana dan lapangan kerja di Indonesia. Pengangguran terdidik jadi masalah kualitas kampus dan ekonomi.-Foto: Antara-

Pengangguran Turun, Tantangan Lulusan Terdidik Belum Hilang

Data Badan Pusat Statistik atau BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2026 memang mengalami penurunan tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut belum serta-merta menjawab persoalan kualitas pekerjaan dan kesesuaian bidang kerja bagi lulusan perguruan tinggi.

“Tingkat pengangguran terbuka adalah sebesar 4,68 persen (7,24 juta),” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di gedung BPS, Jakarta Selatan, Selasa, 5 Mei 2026.

Pada Februari 2026, jumlah penduduk usia kerja tercatat 219,54 juta orang, meningkat 2,753 juta orang secara tahunan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 64,63 juta orang masuk kategori bukan angkatan kerja, naik 891 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, jumlah angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang, meningkat 1,862 juta orang secara tahunan. Dari total angkatan kerja tersebut, sebanyak 147,67 juta orang berstatus bekerja. Jumlahnya naik 1,896 juta orang dibandingkan Februari 2025.

Adapun jumlah pengangguran tercatat 7,24 juta orang atau menurun 35 ribu orang secara tahunan. Penurunan tersebut menunjukkan perbaikan dalam angka pengangguran terbuka, meski tantangan yang dihadapi tenaga kerja terdidik tidak hanya soal apakah seseorang bekerja atau menganggur.

BPS juga mencatat penurunan tingkat pengangguran berdasarkan gender dan wilayah. Tingkat pengangguran perempuan pada Februari 2026 turun menjadi 4,36 persen dari 4,41 persen pada Februari 2025.

BACA JUGA:Mahfud MD Sentil DPR, Dalang Judi Online Jangan Cuma Duduk Manis, Sikat Asetnya!

Di wilayah perkotaan, tingkat pengangguran turun menjadi 5,60 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran di pedesaan tercatat 3,20 persen, menurun dibandingkan 3,33 persen pada Februari 2025.

Angka-angka tersebut memberi gambaran bahwa pasar kerja Indonesia mengalami perbaikan secara umum. Namun, pertanyaan yang lebih besar tetap mengemuka, apakah pertumbuhan kesempatan kerja mampu mengikuti laju pertumbuhan lulusan perguruan tinggi dan menyediakan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka.

Sebab, persoalan sarjana bukan hanya tentang berapa banyak yang lulus atau berapa persen yang menganggur. Ada pula cerita tentang mereka yang bekerja, tetapi tidak di bidang keahliannya, menerima pekerjaan di bawah tingkat pendidikannya, atau terpaksa mengubur kompetensi akademik karena lapangan kerja yang relevan tak kunjung tersedia.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak cukup dinilai dari jumlah ijazah yang dicetak. Ukuran keberhasilannya juga perlu dilihat dari kemampuan lulusan memasuki dunia kerja secara layak, produktif, dan sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki. Kalau tidak, gelar sarjana hanya akan menjadi bukti bahwa seseorang pernah kuliah, bukan jaminan bahwa dunia kerja benar-benar membutuhkan keahliannya.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya