Kapal Induk Hibah Italia Dirombak, Biaya Retrofit KRI Sriwijaya Tembus Rp7,5 Triliun

Kapal Induk Hibah Italia Dirombak, Biaya Retrofit KRI Sriwijaya Tembus Rp7,5 Triliun

Kapal induk Giuseppe Garibaldi akan diretrofit sebelum menjadi KRI Sriwijaya. Biaya perbaikan dan penyesuaiannya diperkirakan Rp7,5 triliun.-Foto: Antara-

Fincantieri merupakan perusahaan galangan kapal asal Italia. Ali juga membuka kemungkinan keterlibatan perusahaan lain dalam proses retrofit kapal induk hibah tersebut.

BACA JUGA:Dari Blokir ke Uang Pelicin, Begini Duduk Perkara Dugaan Suap Summarecon

Salah satunya adalah Leonardo, perusahaan industri pertahanan asal Italia. Menurut Ali, perusahaan itu akan menyediakan sejumlah perlengkapan untuk meningkatkan kemampuan Garibaldi.

Penyesuaian tersebut diperlukan karena kebutuhan angkatan laut Italia dan Indonesia tidak sepenuhnya sama. Kapal yang sebelumnya digunakan Italia harus disesuaikan dengan karakter laut Indonesia dan kebutuhan operasional TNI AL.

“Kebutuhan angkatan laut Italia dengan Indonesia berbeda. Jadi disesuaikan dengan situasi laut tropis, apa yang perlu dan tidak perlu ditambahkan,” ucap Ali.

Meski harus menjalani berbagai modifikasi, Ali menyebut kondisi Garibaldi saat ini masih baik. Ia berharap kapal tersebut nantinya bisa digunakan TNI AL dalam waktu yang cukup panjang.

“Mudah-mudahan nanti akan bisa bertahan digunakan oleh TNI AL mungkin 15 sampai 20 tahun lagi,” kata Ali.

Garibaldi juga akan lebih dulu diarahkan untuk mendukung operasi militer selain perang. Alasannya cukup masuk akal secara geografis. Indonesia merupakan negara kepulauan yang juga akrab dengan berbagai jenis bencana, sehingga keberadaan kapal yang mampu membawa banyak helikopter dianggap dapat membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan.

“Kami sangat butuh kapal atau platform yang bisa membawa banyak helikopter,” ujarnya.

Kapal dengan panjang 180,2 meter dan lebar 33,4 meter tersebut mampu menampung sedikitnya 14 helikopter. Dengan kemampuan itu, distribusi logistik untuk penanganan bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan, dapat dilakukan lebih cepat menuju wilayah terpencil.

Namun jangan buru-buru mengira kapal induk ini hanya akan menjadi kapal pesiar raksasa untuk urusan kemanusiaan. Kemampuan tempurnya tetap disiapkan. Ali mengatakan Garibaldi tetap terbuka untuk digunakan dalam operasi perang apabila dibutuhkan.

Bahkan, pengawalan kapal induk tersebut tidak harus selalu menggunakan kapal perusak atau destroyer. Kapal fregat pun disebut dapat menjalankan tugas pengawalan selama memiliki kemampuan pertahanan yang memadai.

“Fregat pun bisa mengawal, yang penting punya kemampuan anti udara, anti kapal selam, anti kapal permukaan, anti elektronik warfare,” ujarnya.

Jadi, setelah menerima kapal induk hibah dari Italia, pekerjaan Indonesia ternyata belum selesai. Kapalnya memang sudah datang, tetapi masih harus dipoles, dimodifikasi, disesuaikan dengan udara tropis, dilengkapi perlengkapan pendukung, dan dirawat agar siap digunakan.

Harga hibahnya boleh saja tidak disebut sebagai harga pembelian. Namun untuk membuat kapal tua itu benar-benar siap menjadi KRI Sriwijaya, negara tetap harus merogoh kocek sekitar Rp7,5 triliun.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya