Terungkap Penyebab 'Anger Issues' Justin Bieber, Bukan Sekadar Marah Biasa!

Rabu 18-06-2025,05:00 WIB
Reporter : Aan Umilah
Editor : Priya Satrio

Kemarahan merupakan respons lumrah bagi setiap manusia. 

Ada kalanya, rasa marah itu wajar dan berguna, misalnya ketika memotivasi kita untuk mempertahankan diri dari perlakuan buruk atau menyuarakan protes terhadap ketidakadilan sosial. 

Namun, Psikolog Clair Robbins PhD memaparkan bahwa kemarahan tidak selalu produktif. 

BACA JUGA:Hubungan 8 Tahun Chris Martin dan Dakota Johnson Berakhir? Isyarat Emosional dari Panggung Las Vegas

Emosi yang membara, contohnya, dapat tersalurkan secara keliru dan berdampak buruk bagi orang-orang terdekat.

Gangguan kemarahan (anger issues) adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan serius dalam mengelola amarahnya, yang bisa tampak sebagai ledakan emosi di luar kendali, tingkat agresivitas yang berlebihan, atau bahkan memendam amarah yang berujung pada komplikasi psikologis lain.

Temuan penelitian secara meyakinkan menunjukkan bahwa anger issues berkaitan erat dengan pengalaman awal kehidupan, khususnya trauma dan gaya pengasuhan yang kurang tepat. 

Pola asuh otoriter, yang ditandai dengan kontrol berlebih dan ketiadaan kehangatan, dapat menyebabkan anak mengembangkan masalah dalam regulasi emosi yang terus berlanjut hingga usia dewasa. 

BACA JUGA:Katy Perry: Era Baru Sang Bintang Pop, Diguncang Tekanan Karier dan Hubungan

Namun, perlu diingat bahwa tidak ada satu pun pemicu tunggal untuk anger issues.

Beberapa penelitian juga mengungkapkan bahwa kesulitan mengelola emosi lebih sering dialami oleh individu dengan gangguan perkembangan, misalnya ADHD atau OCD. 

Kunci utama untuk menguak akar emosi kita adalah kesadaran diri. 

Apabila berbagai metode pengendalian amarah tidak efektif, penting untuk mempertimbangkan apakah masalah tersebut memerlukan intervensi dari psikolog atau psikiater.

Kategori :

Terpopuler