Insiden ini secara tidak langsung memperkeruh situasi, menjadikannya semakin sulit.
Setelah kejadian memilukan itu, korban menghadapi pengucilan yang semakin intens.
Meskipun ada teman yang berniat tulus untuk membantu, mereka menghindari korban karena takut dijauhi oleh teman-teman lain.
BACA JUGA:Link Nonton Film Alibii.com, Kisah Pemuda Dirikan Bisnis yang Menyediakan Jasa Alibi
Tidak hanya di kalangan siswa, kecurigaan terhadap keterlibatan seorang oknum guru dalam perundungan ini juga mulai terungkap.
Diduga, korban sering direndahkan secara verbal di hadapan teman-temannya dengan panggilan "ABK" hanya karena tidak dapat menjawab soal dengan benar.
Guru yang bersangkutan juga dituduh telah menuduh orang tua korban tidak memperhatikan anak mereka dan menyebarkan rumor negatif ke kelas lain.
Alasan korban tidak naik kelas juga termasuk salah satu rumor yang disebarkan, menambah penderitaan korban.
BACA JUGA:Miris! Seorang Guru di SDN 3 Kaidipang Ngamuk dan Rusak Fasilitas Sekolah Saat Cekcok
Dampak perundungan yang dialaminya membuat kondisi korban berubah total, baik secara fisik maupun psikologis.
P menjadi pendiam dan juga tertutup, serta mengalami berbagai gejala fisik seperti pusing, sesak napas, dan gangguan tidur.
Kondisi ini diperburuk dengan ia harus absen panjang dan dirawat di rumah sakit karena tipes.
Seiring menurunnya kesehatan, nilai akademik korban ikut merosot, sehingga sekolah memutuskan ia tidak naik kelas.
BACA JUGA:Viral Kericuhan Karnaval Sound Horeg di Malang, Warga Dipukul Usai Protes Kebisingan
Meskipun demikian, sekolah menyediakan opsi untuk naik kelas, asalkan ia pindah sekolah.
Orang tua korban akhirnya memutuskan untuk memindahkan P ke sekolah yang berbeda.