JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Ramai dibicarakan di berbagai kalangan, kebijakan Dedi Mulyadi ini menuai banyak respons dari masyarakat.
Banyak orang tua dan siswa bertanya-tanya alasan sebenarnya di balik kebijakan Gubernur Jawa Barat tersebut.
Ternyata, ada alasan menyentuh dan tak disangka yang melatarbelakangi larangan yang dikeluarkan oleh Dedi Mulyadi.
BACA JUGA:Katalog Promo Indomaret Spesial Pay Day 28 Juli 2025: Minyak Goreng Murah!
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menjelaskan secara rinci alasan di balik kebijakan larangan study tour dan acara perpisahan sekolah yang belakangan menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.
Menurutnya, keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan, melainkan didasari oleh keprihatinan terhadap beban ekonomi yang dirasakan oleh para orang tua siswa.
Ia menyebutkan bahwa tidak sedikit wali murid yang terpaksa memaksakan diri untuk membiayai kegiatan sekolah anak-anak mereka, bahkan sampai harus meminjam uang dari bank emok atau lembaga pinjaman ilegal.
Dedi mengungkapkan bahwa strategi tersebut dimaksudkan untuk menekan kebiasaan buruk masyarakat Jawa Barat yang sering terjebak utang demi memenuhi tuntutan sosial yang dibungkus dengan nama kegiatan sekolah.
BACA JUGA:Mobil Listrik Makin Hemat! Cek Cara Dapat Diskon 50 Persen Pasang Charger PLN di Rumah
Ia berharap melalui kebijakan ini, orang tua tidak lagi merasa terbebani untuk memenuhi biaya kegiatan yang sifatnya konsumtif dan tidak mendesak.
Selain itu, ia menilai bahwa banyaknya pengeluaran harian, termasuk uang jajan anak-anak, perlu dievaluasi.
Dalam catatannya, rata-rata uang jajan siswa sekolah di Jawa Barat bisa mencapai Rp 15 ribu per hari.
Jumlah tersebut dinilai cukup besar, terutama bagi keluarga dari kalangan ekonomi lemah.
BACA JUGA:Mobil Listrik Makin Hemat! Cek Cara Dapat Diskon 50 Persen Pasang Charger PLN di Rumah
Oleh karena itu, Dedi menggagas pola makan bergizi gratis (MBG) atau menganjurkan siswa untuk membawa bekal dari rumah sebagai upaya penghematan yang dapat diimplementasikan secara praktis.