Masuk Bursa Capres 2029 Bersama Prabowo, Dedi Mulyadi: Belum Waktunya!
Gubernur Dedi Mulyadi Wajibkan Tiap Kelas Punya Toilet Pribadi, Siswa Dijamin Bakalan Nyaman Belajar!-@dedimulyadi71-Instagram
SEMARAKNEWS.CO.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi sorotan publik setelah namanya muncul sebagai calon presiden (capres) 2029 terpopuler kedua dalam survei terbaru Indikator Politik Indonesia.
Dalam hasil survei yang dirilis awal November 2025 itu, Dedi menempati posisi kedua dengan elektabilitas 18,4 persen, hanya kalah dari Prabowo Subianto yang masih mendominasi dengan 46,7 persen suara.
Namun, saat ditanya mengenai peluang dirinya maju di Pilpres 2029, Dedi memilih bersikap santai. Ia menegaskan bahwa belum waktunya membicarakan politik 2029, dan kini lebih memilih fokus bekerja untuk masyarakat Jawa Barat.
“Fokus saya mah kerja, udahlah. Masih kejauhan, jangan ngomongin dulu 2029,” ujar Dedi kepada awak media usai pembukaan West Java Festival 2025 di Kiara Artha Park, Bandung, Minggu (9/11/2025).
“Ngomongin 2029 Masih Jauh, Mending Urusin Pembangunan Jawa Barat Dulu”
Dalam kesempatan itu, Dedi menegaskan bahwa dirinya tidak ingin teralihkan dari agenda pembangunan Jawa Barat yang sedang berjalan.
Menurutnya, tugas utama pemerintah daerah adalah memastikan seluruh proyek strategis bisa terealisasi dengan baik, terutama di bidang infrastruktur, pendidikan, dan ekonomi rakyat.
“Kita ngomongin dulu besok, ini duit di kas provinsi akan terus dibelanjakan,” katanya sambil tersenyum.
Pernyataan tersebut memperlihatkan gaya khas Dedi yang dikenal sederhana, blak-blakan, dan fokus pada kerja nyata. Selama menjabat, Dedi memang kerap turun langsung ke lapangan, berdialog dengan warga, dan menyelesaikan masalah secara cepat.
Survei Indikator Politik: Dedi Mulyadi Geser Tokoh Nasional Lain
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menyampaikan hasil survei nasional yang dilakukan pada 20–27 Oktober 2025 dengan responden tersebar di seluruh Indonesia.
Hasilnya cukup mengejutkan:
-
Prabowo Subianto masih memimpin dengan 46,7 persen elektabilitas,
-
Dedi Mulyadi berada di posisi kedua dengan 18,4 persen,
-
Anies Baswedan berada di posisi ketiga dengan 9 persen,
-
Gibran Rakabuming Raka menyusul di posisi keempat dengan 4,8 persen,
-
Disusul oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan 3,9 persen, dan Ganjar Pranowo dengan 3,7 persen.
Beberapa tokoh lain tercatat memperoleh suara di bawah 2 persen, seperti:
-
Sherly Tjoanda Laos (1,1 persen),
-
Khofifah Indar Parawansa (0,5 persen),
-
Erick Thohir (0,4 persen),
-
Kaesang Pangarep (0,4 persen), dan
-
Puan Maharani (0,1 persen).
Burhanuddin menjelaskan, kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi disinyalir karena popularitasnya sebagai pemimpin daerah yang aktif, merakyat, dan sering muncul dalam pemberitaan positif.
“Dedi Mulyadi menarik perhatian publik karena gaya kepemimpinannya yang autentik dan kedekatannya dengan masyarakat,” ujar Burhanuddin.
Popularitas Dedi Mulyadi Naik Karena Gaya Kepemimpinan Merakyat
BACA JUGA:Najib Burhani: Argumen Alquran Itu Rasional, Tafsir Ahmadiyah Sudah Membuktikannya Sejak Dulu
Nama Dedi Mulyadi memang tidak asing di dunia politik nasional. Mantan Bupati Purwakarta ini dikenal luas lewat gaya kepemimpinannya yang khas Sunda, sederhana, dan humoris, namun tetap berwibawa.
Ia sering kali mengunggah kegiatannya di media sosial, mulai dari meninjau proyek pembangunan, membantu warga miskin, hingga berdiskusi santai dengan masyarakat di pasar atau sawah.
Citra pemimpin yang dekat dengan rakyat inilah yang dinilai menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya elektabilitas Dedi di tingkat nasional.
Selain itu, kiprahnya sebagai Gubernur Jawa Barat juga semakin memperkuat rekam jejaknya di pemerintahan. Dedi kerap mengedepankan program berbasis kearifan lokal, pemberdayaan desa, serta penataan kota yang ramah lingkungan dan inklusif.
Dedi Pilih Rendah Hati, Publik Justru Semakin Simpati
Meski kini banyak pihak mulai menyebutnya sebagai “kuda hitam” di Pilpres 2029, Dedi tetap menunjukkan sikap rendah hati dan fokus bekerja.
Alih-alih memanfaatkan momen survei untuk membangun citra politik, Dedi justru menegaskan bahwa pelayanan publik lebih penting daripada ambisi pribadi.
Sikap ini justru membuatnya semakin menarik di mata publik — sosok pemimpin yang tidak sibuk dengan pencitraan, tapi nyata dalam tindakan.
Beberapa pengamat menilai, jika konsistensi kerja Dedi terus terjaga hingga akhir masa jabatannya, potensinya untuk menjadi figur nasional di 2029 akan semakin besar.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-