Paranormal Ramalkan Siklus Bencana Meningkat Awal Tahun 2026, Kiamat Kecil di Nusantara?

Jumat 12-12-2025,16:30 WIB
Reporter : Jeany Pohan
Editor : Priya Satrio

BACA JUGA:Gus Wal Serukan Perawatan Alam Lewat Kirab Merah Putih PNIB 14 Desember 2025

Kebakaran Masih Mengintai

Tragedi kebakaran di Kemayoran dinilai bukan yang terakhir. Ki Remang menyebutkan bahwa akan ada kebakaran besar lain di Jakarta menjelang dua atau tiga hari sebelum pergantian tahun.

Ia tidak menjelaskan lokasi pastinya, namun menegaskan bahwa kejadian tersebut berpotensi menimbulkan korban jiwa.

Di luar Pulau Jawa, Ki Remang menilai bahwa sebagian kawasan berhutan berpotensi mengalami kebakaran kecil, meski dengan tingkat bahaya yang tidak setinggi di ibu kota.

BACA JUGA:Gabriel Jesus Hampir Cetak Gol di Laga Comeback: Tuhan Selamatkan Hidup Saya!

Potensi Gempa dan Longsor Awal Tahun

Memasuki Januari hingga Maret 2026, Ki Remang menekankan kewaspadaan pada unsur tanah.

Dalam penglihatannya, wilayah Sukabumi, Cianjur, dan Bogor disebut berpotensi mengalami guncangan kuat yang berkaitan dengan pergeseran lempeng bumi. Potensi longsor, terutama di daerah bekas gempa, juga disebut perlu diwaspadai.

Bencana di Sumatera dinilai belum selesai. Ki Remang menegaskan bahwa seluruh kejadian yang terjadi sebelumnya hanya bagian awal dari siklus yang masih akan berlangsung hingga awal tahun depan.

BACA JUGA:Toph Resmi Debut di Avatar Live-Action Season 2, Ini Detail Teaser Terbarunya

Bencana Disebut sebagai Respons Alam

Dalam pandangan metafisik para paranormal, rangkaian bencana yang terjadi bukan sekadar fenomena geologi atau meteorologi. Mereka memandang bahwa energi manusia, baik positif maupun negatif, mempengaruhi respons alam.

Keserakahan, kemarahan, dan berbagai emosi negatif disebut mengumpal menjadi “energi kolektif” yang kemudian direfleksikan alam dalam bentuk bencana. Sebaliknya, tindakan kebaikan, doa, dan kepedulian lingkungan dinilai dapat meredam energi destruktif tersebut.

Puncak Siklus pada Akhir Tahun

Menjelang akhir 2025, Ki Remang memperkirakan adanya puncak “residu energi negatif” akibat tekanan hidup, kegagalan, atau beban emosional masyarakat. Menurutnya, energi tersebut dapat mempengaruhi stabilitas alam dan memicu fenomena yang lebih besar.

Baik Ki Remang maupun Ki Demang sama-sama mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan, menjaga kondisi mental, serta memperkuat hubungan dengan lingkungan sekitar. Mereka menegaskan bahwa bencana bukan terjadi tanpa alasan, melainkan bentuk peringatan alam.

Kategori :