JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Tokoh nasional Jusuf Kalla menyampaikan pandangannya terkait sikap Indonesia terhadap konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dalam pernyataannya, Jusuf Kalla menilai Indonesia seharusnya mengambil sikap yang lebih tegas terhadap konflik Iran yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut Jusuf Kalla, posisi Indonesia dalam konflik Iran perlu menunjukkan keberpihakan kepada negara yang menjadi korban serangan.
BACA JUGA:Perang Iran vs Amerika dan Israel Memanas, PNIB: Perdamaian Harga Mati!
Jusuf Kalla Nilai Indonesia Harus Membela Negara yang Diserang
Dalam pandangan Jusuf Kalla, Indonesia secara moral perlu berpihak kepada Iran karena dianggap sebagai negara yang menjadi sasaran serangan dalam konflik tersebut.
Pernyataan Jusuf Kalla mengenai konflik Iran ini disampaikan dalam keterangannya kepada media pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Menurut Jusuf Kalla, logika hubungan internasional menuntut Indonesia untuk memberikan dukungan kepada negara yang mengalami tekanan atau serangan.
Ia menegaskan bahwa sikap Indonesia terhadap konflik Iran harus mencerminkan prinsip keadilan dalam hubungan antarnegara.
BACA JUGA:Cadangan BBM Indonesia Cuma 20 Hari, Apa Dampaknya Jika Perang AS–Israel vs Iran Berkepanjangan?
Lebih lanjut, Jusuf Kalla menilai sikap Indonesia terhadap konflik Iran juga berkaitan dengan konsistensi diplomasi Indonesia di kawasan Asia dan dunia Islam.
Menurut Jusuf Kalla, Indonesia selama ini dikenal aktif menjalin kerja sama dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam.
Karena itu, sikap Indonesia dalam konflik Iran dianggap penting untuk menjaga kepercayaan dan hubungan strategis dengan negara-negara Muslim.
Sebagai mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Indonesia, Jusuf Kalla menilai posisi netral bukan pilihan yang tepat dalam konflik Iran.
Menurut Jusuf Kalla, Indonesia seharusnya berani menyampaikan sikap yang jelas terhadap konflik yang melibatkan negara-negara di Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia seharusnya memiliki posisi diplomatik yang tegas.