JAKARTA, SEMARAKNEWS.CO.ID - Lembaga Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis hasil survei nasional terkait kandidat potensial Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031.
Survei ini dilakukan secara daring pada 20 Februari hingga 15 Maret 2026, dengan tujuan memetakan figur kuat sekaligus mengidentifikasi isu strategis yang akan dihadapi menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
Dalam simulasi semi terbuka yang melibatkan 14 nama kandidat, Imam Jazuli menempati posisi teratas dengan elektabilitas 26,1 persen.
Ia diikuti oleh Marzuqi Mustamar (22,6 persen) dan Yusuf Chudlori (17 persen). Sementara itu, Ketua Umum PBNU saat ini, Yahya Cholil Staquf, berada di posisi berikutnya dengan 9,8 persen.
Nama lain yang masuk dalam daftar antara lain Zulfa Mustofa, Abdussalam Shohib, Nasaruddin Umar, Syaifullah Yusuf, Nusron Wahid, hingga sejumlah tokoh NU lainnya.
Metodologi Survei dan Profil Responden
Survei ini melibatkan 5.900 responden dengan metode multistage random sampling. Komposisi responden terdiri dari 70 persen warga Nahdlatul Ulama dan 30 persen pengurus di tingkat PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia.
Margin of error survei ini berada di kisaran 3 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen, sehingga hasilnya dinilai cukup representatif untuk menggambarkan preferensi internal warga NU.
Tingginya elektabilitas KH Imam Jazuli disebut tidak lepas dari tingkat ketidakpuasan responden terhadap kepemimpinan PBNU saat ini. Sekitar 80 persen responden menyatakan kurang puas terhadap kinerja organisasi pada periode berjalan.
Hal ini mendorong munculnya figur alternatif yang dinilai mampu membawa perubahan dan pembaruan bagi organisasi Nahdlatul Ulama di masa mendatang.
KH Imam Jazuli dikenal sebagai kiai muda yang aktif di lingkungan pesantren dan organisasi NU. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Cendekia di Cirebon.
Pendidikannya ditempuh di pesantren, termasuk di Pesantren Lirboyo, sebelum melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Sebagai tokoh muda, ia dikenal aktif menyampaikan gagasan pembaruan NU serta terlibat dalam diskursus keumatan dan kebangsaan. Kiprahnya sebagai akademisi dan penggerak organisasi menjadi salah satu faktor yang mendorong elektabilitasnya dalam survei ini.
Menuju Muktamar NU 2026
Hasil survei ini menjadi gambaran awal dinamika internal NU menjelang Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan 2026.