SEMARAKNEWS.CO.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) kini memasuki babak baru dengan dilantiknya Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala BGN, menggantikan Dadan Hindayana.
Perubahan kepemimpinan ini diharapkan membawa angin segar di tengah sorotan tajam terhadap integritas dan efisiensi program-program gizi nasional.
Era sebelumnya di bawah Dadan Hindayana diwarnai berbagai isu serius yang mengikis kepercayaan publik.
Kerusakan sistemik ini tidak hanya terbatas pada manipulasi verifikasi portal mitra, tetapi juga merambah ke proyek pengadaan barang yang tidak relevan dengan kebutuhan gizi masyarakat.
BACA JUGA:Prabowo Minta Data Investasi Dibuka ke Publik, Sinyal Kepercayaan Global ke Indonesia Menguat
Skandal Pengadaan dan Pembengkakan Anggaran
Penyelidikan oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) telah mengungkap praktik penggelembungan anggaran yang masif dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Beberapa temuan kunci meliputi:
- Pengadaan Motor Listrik: Lebih dari 21.801 unit motor listrik senilai Rp1 triliun lebih diadakan melalui PT Yasa Artha Trimanunggal (YAT) milik Andri Mulyono, dengan dugaan mark-up signifikan.
- Barang Non-Esensial: Pembelian 32.000 pasang sepatu, 31.994 unit komputer tablet, dan 5.400 unit televisi 75 inci yang dinilai tidak relevan dengan pemenuhan gizi riil di lapangan.
- Manipulasi Titik Koordinat SPPG: Makelar swasta seperti Asep Yusuf Somantri (AYS) menyuap pejabat BGN untuk memanipulasi titik koordinat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mengakibatkan pembengkakan jumlah dapur hingga 27.952 unit per April 2026.
Implikasi dari perluasan titik dapur yang tidak terkontrol ini menyebabkan pemborosan anggaran negara yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp1 triliun setiap bulannya.
Situasi ini menuntut langkah-langkah drastis untuk memulihkan keuangan negara dan kepercayaan masyarakat.
Komitmen Nanik Sudaryati Deyang: Efisiensi dan Transparansi
Nanik Sudaryati Deyang, setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (8/6/2026), menegaskan komitmennya untuk mengatasi kebocoran fiskal dan memulihkan kepercayaan publik.
Bersama timnya, ia merumuskan 10 poin evaluasi komprehensif untuk program MBG. Fokus utamanya adalah memotong jalur birokrasi koruptif dan mengarahkan kebijakan dari ekspansi kuantitatif yang tidak terkendali menuju efisiensi berbasis data.
“Langkah pertama kami adalah fokus efisiensi anggaran tanpa mengubah target,” ujar Nanik. Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan bahwa setiap rupiah anggaran benar-benar digunakan untuk meningkatkan gizi masyarakat, bukan untuk memperkaya oknum tertentu.
Era baru BGN di bawah kepemimpinan Nanik Sudaryati Deyang diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan tata kelola gizi yang lebih baik dan transparan di Indonesia.