Gen Z Wajib Tahu! Profil Jerhemy Owen yang Tanam 150 Ribu Pohon di Aceh
Jerhemy Owen yang Tanam 150 Ribu Pohon di Aceh-@jerhemynemo-Instagram
SEMARAKNEWS.CO.ID – Nama Jerhemy Owen mendadak memuncak di mesin pencarian. Aksi nekatnya menebang 10 hektar kebun sawit ilegal di hutan lindung Aceh Tamiang baru-baru ini menuai decak kagum. Namun, pria muda ini tidak berhenti di situ, Ia membuktikan kritik harus dibarengi solusi nyata.
Kini, Owen mengumumkan misi raksasa: menanam lebih dari 150.000 pohon di Aceh. Kolaborasi strategis ini melibatkan WWF Indonesia dan warga lokal.
Langkah ini bukan sekadar tren media sosial, melainkan strategi pemulihan ekosistem yang terukur.
BACA JUGA:Prabowo dan Singapura Kompak Jaga Selat Malaka, Jalur Dagang Dunia Tak Boleh Ikut Lumpuh
Lahan bekas sawit ilegal di Tenggulun akan ditanami 20.000 pohon. Sementara itu, area CRU Das Peusangan, Bener Meriah, menjadi target utama dengan 150.000 pohon agroforestri.
Konsep agroforestri ini sangat brilian karena memadukan pelestarian hutan dengan pemberdayaan ekonomi warga sekitar.
"Tujuannya mengembalikan hutan, dimanfaatkan warga, dan jadi habitat Gajah Sumatra," tulis Owen di Instagram @jerhemynemo. Pendekatan ini menyentuh aspek ekologi sekaligus sosial, perspektif yang jarang dimiliki aktivis muda.
Lantas, siapa sosok di balik gerakan masif ini? Jerhemy Owen Wijaya, lahir di Jakarta pada 29 April 2002. Dedikasinya pada bumi bukanlah kebetulan semata, melainkan hasil dari tempaan akademis yang serius.
BACA JUGA:Burger AI Bikin Geger, Ilmuwan Stanford Ciptakan Resep Sesuai Umur hingga Kondisi Kesehatan
Owen menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Sekolah Dian Harapan. Pada 2020, ia terbang ke Belanda untuk kuliah di Avans University of Applied Sciences, mengambil jurusan Teknologi Lingkungan dan Energi Terbarukan. Pilihan studinya sangat spesifik, berfokus pada sustainability dan pengelolaan sumber daya alam.
Lulus pada 2024, Owen menyelesaikan tesis berjudul "Acceleration of Industrial Decarbonization in Indonesia". Wawasan ini jelas membentuk pola pikir dan konten-konten edukatif yang ia hasilkan di media sosial.
Berbeda dengan kreator konten pada umumnya, Owen menggunakan TikTok untuk edukasi lingkungan. Ia turun langsung meliput pengelolaan sampah, polusi udara, hingga isu green environment. Gaya kontennya yang raw membuat pesan lingkungan lebih mudah dicerna Gen Z.
BACA JUGA:Papua Terus Berdarah, Yusril Persilakan Komnas HAM Usut Tewasnya Warga Sipil
Kredibilitasnya tidak main-main. Pemahaman mendalamnya tentang krisis iklim membawanya diundang sebagai pembicara di Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP20 di Baku, Azerbaijan. Sebuah pencapaian luar biasa untuk pemuda asal Indonesia.
Aksi menanam 150.000 pohon ini adalah bukti nyata bahwa ilmu yang ia pelajari di Eropa kini diterapkan di tanah air. Owen membuktikan anak muda bisa menjadi motor penggerak perubahan iklim, tidak hanya berteriak di media sosial, tetapi juga mencangkan cangkul di hutan Aceh. Gerakan Owen memberikan tamparan keras bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kolektif.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-