Pangalengan dan Kertasari Dihujani Gempa Swarm 42 Kali, BMKG Berikan Penjelasan Mengenai Hal Tersebut

Kamis 17-09-2026,13:31 WIB
Reporter : Tyo Sulistio
Editor : Tyo Sulistio

SEMERAKNEWS.CO.ID – Rangkaian gempa bumi terjadi di sekitar Pangalengan dan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sejak 16 hingga 17 September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sekitar 42 kejadian dalam rangkaian yang dikenal sebagai gempa swarm.

Salah satu gempa tercatat pada Kamis, 17 September 2026 pukul 04.59 WIB. Gempa itu memiliki magnitudo 2,6, berlokasi di darat sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung, dengan kedalaman 3 kilometer.

Guncangan dirasakan di Pangalengan dan Kertasari pada skala intensitas III MMI. Pada tingkat tersebut, getaran terasa nyata di dalam rumah dan dapat disamakan dengan sensasi kendaraan berat melintas.

BACA JUGA:Viral! Kartu Layanan Gratis Gratis Dijual Rp500 Ribu, TransJakarta Segera Tindak Tegas Hingga ke Ranah Hukum

Plt Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Wilayah Pangalengan berada di bagian selatan Jawa Barat yang memiliki kondisi deformasi kerak bumi cukup kompleks.

Gempa swarm adalah rangkaian gempa kecil yang muncul berulang kali di wilayah tertentu dalam periode tertentu tanpa satu gempa utama yang kekuatannya jauh lebih besar. Edukator mitigasi bencana Daryono menjelaskan fenomena ini tidak otomatis berarti energi tektonik sedang habis dilepaskan atau gempa besar pasti akan terjadi.

Pangalengan juga berdekatan dengan sistem Sesar Garsela atau Garut Selatan. Namun, aktivitas swarm perlu dianalisis melalui distribusi episenter, kedalaman, mekanisme sumber, serta perubahan aktivitas dari waktu ke waktu. Karena itu, satu rangkaian gempa tidak dapat disimpulkan hanya dari jumlah kejadiannya.

BACA JUGA:LRT Kelapa Gading-Manggarai Resmi Beroperasi, Jalur 12,2 Kilometer Ditargetkan Angkut 80 Ribu Orang per Hari

Dampak guncangan turut dipengaruhi kondisi geologi setempat. Sedimen atau material vulkanik yang relatif lunak dapat memperkuat gerakan tanah pada frekuensi tertentu, sehingga gempa kecil tetap terasa oleh warga.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan. Warga dapat memastikan bangunan dalam kondisi baik, mengamankan perabot yang mudah jatuh, mengenali tempat aman, dan memahami prosedur berlindung, yakni merunduk, berlindung, serta berpegangan.

BACA JUGA:Lima Teknologi Kereta yang Beroperasi di Indonesia dari KRL hingga Whoosh, Mana yang Paling Cepat?

Masyarakat tidak perlu mengaitkan setiap getaran dengan skenario terburuk. Pemantauan data BMKG tetap menjadi rujukan utama karena pola swarm dapat berubah secara temporal dan spasial. Warga juga sebaiknya tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai prediksi gempa besar.

Kategori :