Perubahan iklim membuat situasinya semakin rumit. Lahan basah dan kawasan hutan semakin terfragmentasi sehingga ruang hidup burung migran ikut menyempit.
“Penggunaan bahan kimia pertanian secara intensif juga memengaruhi rantai makanan dengan mengurangi jumlah invertebrata,” ujar Ding.
Indonesia pun tidak luput dari persoalan tersebut. Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Mohammad Irham, mengatakan sebagian besar stopover dan wintering ground burung migran di Indonesia berada di luar kawasan konservasi.
Artinya, lokasi-lokasi tersebut relatif lebih rentan dialihfungsikan untuk kepentingan lain. Habitat yang hari ini menjadi tempat burung mencari makan bisa saja besok berubah menjadi lahan produksi, tambak, atau kawasan pembangunan.
“Kehadiran burung migran di kawasan pertanian dan perikanan juga dapat menimbulkan potensi konflik dengan pengelola lahan,” kata anggota kelompok riset aves di BRIN tersebut.
Pada akhirnya, persoalan burung migran bukan cuma soal burung. Ia memperlihatkan bagaimana kebutuhan ekonomi, perubahan iklim, dan ekspansi manusia saling bertabrakan di ruang yang sama. Ketika setiap jengkal pesisir dan lahan basah dihitung berdasarkan nilai produksinya, burung migran menjadi salah satu pihak yang paling mudah kehilangan tempat dalam peta pembangunan.