JAKARTA, Semaraknews.co.id — Burung migran ternyata juga harus berhadapan dengan persoalan yang sangat manusiawi, kehilangan tempat tinggal. Bedanya, mereka tidak bisa protes ke pemerintah, tidak punya sertifikat tanah, dan tidak bisa menggelar aksi ketika habitatnya perlahan berubah menjadi kawasan industri.
Lonjakan permintaan terhadap produk makanan laut menjadi salah satu pemicunya. Head of Flyways and Species Conservation BirdLife International untuk kawasan Asia, Ding Li Yong, mengatakan kebutuhan yang terus meningkat ikut mendorong pembangunan industri di wilayah pesisir. Imbasnya, habitat yang selama ini menjadi tempat burung migran beristirahat dan mencari makan ikut terdesak.
“Burung yang menuju Asia Tenggara dan Australia menjadi kekurangan atau bahkan tidak lagi memiliki habitat untuk beristirahat dan mencari makan,” kata Ding melalui pesan tertulis pada Kamis, 24 September 2026.
Persoalannya tidak berhenti pada hilangnya satu-dua lokasi persinggahan. Studi terbaru BirdLife International menunjukkan krisis iklim dan eksploitasi alam kini ikut mengancam keberlangsungan ribuan spesies burung migran.
Bagi burung yang menempuh perjalanan lintas negara, habitat persinggahan bukan sekadar tempat mampir sebentar. Di situlah mereka mengisi kembali energi sebelum melanjutkan perjalanan. Ketika lokasi tersebut rusak atau terfragmentasi, burung migran semakin sulit mendapatkan makanan dan tempat beristirahat.
BACA JUGA:Prabowo Bilang Hormati Pakar, Omongan Goblok Ada yang Plintir Katanya
Dalam kondisi yang lebih parah, kerusakan habitat bahkan bisa ikut menggerus populasi burung migran. Perjalanan panjang yang seharusnya menjadi bagian dari siklus kehidupan berubah menjadi semacam perjalanan dengan rest area yang satu per satu ditutup.
Temuan tersebut tercantum dalam edisi keenam laporan State of the World’s Birds. Dalam laporan itu, BirdLife International secara khusus menyoroti kondisi 1.843 spesies burung migran.
Kerusakan habitat dapat terjadi pada tiga kawasan penting dalam siklus tahunan burung migran. Ada breeding ground atau lokasi berkembang biak, stopover atau lokasi persinggahan, serta wintering ground atau kawasan yang digunakan untuk berlindung dari kondisi ekstrem.
Masalahnya, banyak lokasi penting tersebut justru sedang mengalami tekanan berat. BirdLife mencatat 58 persen dari 1.099 lokasi vital atau key biodiversity areas bagi burung migran berada dalam kondisi buruk hingga sangat buruk.
Lahan basah menjadi salah satu korban paling serius. Habitat ini berperan penting bagi sekitar sepertiga spesies burung migran, tetapi banyak yang justru dikeringkan, mengalami degradasi, atau dialihfungsikan untuk pertanian, kehutanan, hingga pembangunan.
BirdLife juga menyoroti empat jalur migrasi daratan atau terrestrial flyway yang dilalui ratusan spesies burung migran. Salah satunya East Asian–Australasian Flyway atau jalur Asia Timur-Australasian.
BACA JUGA:Timnas Indonesia vs Singapura di FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Ingatkan Satu Hal Penting
Jalur tersebut mencatat tingkat kemerosotan populasi tertinggi, yakni 53 persen. Angka itu menggambarkan tekanan serius terhadap lebih dari separuh spesies burung yang menggunakan jalur migrasi tersebut.
Menurut Ding Li Yong, tekanan terhadap habitat sepanjang jalur migrasi semakin besar akibat perubahan penggunaan lahan. Di banyak wilayah Asia, tempat burung seharusnya berhenti mengisi tenaga justru berubah menjadi sawah dan kawasan budi daya perikanan.