Nataru 2026-2027 Mengintai, Cuaca Buruk dan Antrean Pelabuhan Jadi Pekerjaan Rumah Angkutan Laut

Senin 12-10-2026,12:30 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, Semaraknews.co.id  — Libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 belum tiba, tetapi operator angkutan laut sudah harus menyiapkan diri menghadapi dua persoalan sekaligus. Lonjakan penumpang dan pengiriman logistik berpotensi meningkatkan kebutuhan kapal, sementara cuaca buruk pada akhir tahun bisa menghambat perjalanan dan menguji keselamatan pelayaran.

PT Dharma Lautan Utama mulai mengantisipasi situasi tersebut melalui rapat koordinasi yang digelar di Hotel Sahid Jaya Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu, 10 Oktober 2026. Persiapan mencakup pemeriksaan armada, penataan jadwal perawatan kapal, penempatan personel, hingga evaluasi kebutuhan kapal di setiap wilayah pelayanan.

Direktur Utama PT Dharma Lautan Utama Erwin H. Poedjono mengatakan kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu perhatian perusahaan menjelang periode angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

“Yang kami persiapkan mulai dari sumber daya manusianya, baik kuantitas maupun kualitas,” kata Erwin dalam rapat koordinasi tersebut.

Selain personel, perusahaan memeriksa kondisi konstruksi kapal, sistem permesinan, dan peralatan pendukung. Jadwal pengedokan atau docking juga diatur agar kapal yang menjalani perawatan tidak mengganggu kebutuhan operasional selama periode liburan.

BACA JUGA:Unggahan Betrand Peto di Media Sosial Jadi Sorotan Warganet, Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah Memanas Lagi

Persoalan cuaca menjadi tantangan tersendiri. Perusahaan memantau informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta laporan cuaca dari Australia dan Singapura. Pusat kendali operasional digunakan untuk memantau tinggi gelombang dan kecepatan angin sebagai bahan pertimbangan sebelum kapal berlayar.

“Peralatan BMKG juga terpasang di kapal kami,” ujar Erwin.

Perusahaan juga menggelar latihan keselamatan secara rutin dan mengevaluasi kondisi kapal sebelum memasuki periode padat. Jika kebutuhan angkutan meningkat, manajemen akan menelaah laporan cabang dan mempertimbangkan reposisi kapal sebelum memutuskan penambahan armada.

Penasehat Utama sekaligus pemilik PT Dharma Lautan Utama Bambang Haryo Soekartono menilai persiapan sejak awal Oktober diperlukan untuk mengantisipasi peningkatan aktivitas logistik menjelang akhir tahun. Pada periode tersebut, kebutuhan transportasi dapat meningkat seiring penyelesaian berbagai kegiatan dan anggaran.

Namun, penambahan kapasitas angkutan tidak bisa dilakukan dengan mengabaikan kondisi cuaca. Bambang mengingatkan keputusan berlayar harus mempertimbangkan karakteristik kapal dan tingkat risiko di setiap lintasan. Dalam situasi tertentu, operator dapat mengurangi muatan atau menghentikan pelayaran sementara.

Bambang, yang juga merupakan anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Gerindra, menyoroti pemenuhan standar keselamatan pelayaran, termasuk ketentuan International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS). Kapal harus dilengkapi peralatan keselamatan seperti sekoci penolong dan jaket pelampung. Kesiapan petugas pencarian dan pertolongan juga diperlukan untuk mempercepat penanganan kecelakaan di laut.

Di luar kesiapan kapal, kelancaran angkutan Nataru juga bergantung pada kemampuan pelabuhan mengelola lonjakan kendaraan dan barang. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo menilai operator tidak bisa dibebani sendirian untuk memastikan pelayanan berjalan lancar.

“Operator kapal tidak bisa bekerja sendiri,” ujar Khoiri.

Menurut dia, antrean panjang di sejumlah lintasan penyeberangan tidak selalu disebabkan oleh kekurangan kapal. Kapasitas dermaga, kolam pelabuhan, dan pengaturan arus kendaraan turut menentukan kelancaran pergerakan penumpang maupun logistik.

Kategori :