Aksi Jalanan Sepi, Mahasiswa Janji Gerakan Masih Hidup Meski Cuma di Medsos
Aksi mahasiswa meredup pasca bentrok DPR, kini janji gerakan tetap hidup meski lebih ramai di media sosial ketimbang jalanan.-Foto: IG @storyrakyat_-
JAKARTA, Semaraknews.co.id – Demonstrasi akbar akhir Agustus 2025 di depan DPR meninggalkan luka panjang. Nyawa seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, melayang bersama sejumlah korban lain akibat bentrok. Aksi yang semula dielu-elukan sebagai “kebangkitan rakyat” itu kini terasa meredup. Jalanan sepi, tapi bukan berarti mahasiswa bubar jalan.
Ketua BEM SI Jabodetabek Banten, M. Afif, menepis anggapan gerakan mahasiswa kehilangan arah. Menurutnya, konsolidasi tetap berjalan, hanya saja bentuknya tidak selalu lewat orasi megafon dan gas air mata.
“Gerakan (harus) hadir dengan arah yang betul, bukan sekadar simbolis, melainkan sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat,” ujarnya kepada wartawan pada Kamis, 11 September 2025.
Afif blak-blakan, tragedi Agustus membuat banyak mahasiswa mikir ulang. Risiko kehilangan nyawa jelas bukan perkara sepele. Kekhawatiran itu, katanya, manusiawi, apalagi ketika kawan-kawan mereka seperti Delpedro dan Khariq Anhar harus merasakan dinginnya jeruji usai aksi.
BACA JUGA:Maulid Nabi dan Harlah Gus Dur, PNIB Ajak Umat Teladani Spirit Kemanusiaan
Tapi ia menegaskan, Ancaman hanya bisa membungkam satu-dua orang, tapi tidak akan pernah memadamkan gerakan mahasiswa.”
Selain represi, fragmentasi juga jadi biang. Setelah Agustus, tiap aliansi sempat jalan sendiri-sendiri. Kini, Afif mengaku ada upaya “melepas eksklusivitas” dan membangun koneksi lintas kelompok. “Kami tetap terkoneksi, melebur, dan tunggu saja, mahasiswa akan tetap bergerak untuk kedaulatan rakyat,” katanya.
Afif menekankan gerakan jangan berhenti pada tolak-menolak, tapi juga harus hadir dengan solusi. Dan kalau solusi itu ditolak pemerintah, rakyat punya hak bertanya siapa sebenarnya yang berdaulat di negeri ini, rakyat atau penguasa?
Sejak tragedi, aksi jalanan memang menurun. Catatan terakhir datang dari BEM UI yang menggelar aksi di depan DPR pada Selasa, 9 September 2025. Mereka mendesak pemerintah dan DPR memenuhi 25 tuntutan alias “17+8 Tuntutan Rakyat”.
BACA JUGA:Banjir Sampai Leher di Denpasar, Gibran Cuma Kasih Obatnya Handuk dan Mainan
Ketua BEM UI, Atan Zayyid Sulthan Rahman, menyebut delapan tuntutan tambahan belum tersentuh sama sekali. “Delapan tuntutan ini sama sekali belum dibahas oleh pemerintah. Bahkan ada pejabat publik yang menyatakan, kalau dipenuhi semua, bakal repot,” ujarnya.
Sesudah itu, jalanan kembali sepi. Tapi Afif menegaskan, bukan berarti gerakan padam, melainkan sedang mencari bentuk baru. “Gerakan mahasiswa bukan sekadar tentang kampus atau mahasiswa, melainkan soal kedaulatan rakyat,” ucapnya.
Nada serupa disampaikan Ketua BEM SI, Muzammil Ihsan. Ia memastikan konsolidasi terus jalan. Strategi baru sedang digodok agar api perlawanan tidak sekadar jadi abu. “Kami masih memikirkan langkah selanjutnya,” katanya.
Sementara itu, dari Bandung, BEM Universitas Padjadjaran juga tak tinggal diam. Muhammad Rafa menyebut ia dan kawan-kawan tengah merumuskan eskalasi tuntutan. “Kami sedang merumuskan eskalasi tuntutan serta berfokus pada kampanye di udara dan media sosial,” ujarnya.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-