Gen Z Nepal Bisa Gulingkan Perdana Menteri, Mahasiswa Indonesia Masih Gulingkan Spanduk di Senayan

Gen Z Nepal Bisa Gulingkan Perdana Menteri, Mahasiswa Indonesia Masih Gulingkan Spanduk di Senayan

Gen Z di Nepal berhasil paksa perdana menteri mundur, sementara di Indonesia mahasiswa masih sibuk bentang spanduk di Senayan.-Foto: The Straits Times-

BACA JUGA:Tim Reformasi Polri Disetujui Prabowo, Upaya Biar Polisi Tak Lagi Gagah-Gagahan di Jalanan

Tapi Jangan Keburu Pesimis

Di sisi lain, peneliti Populi Center, Usep Saepul Ahyar, justru melihat Indonesia masih bisa “meniru” Nepal kalau pemerintah terus cuek. “Walaupun konteks Indonesia dengan Nepal berbeda, tetapi potensi terjadinya demonstrasi besar tetap ada, terlihat dari aksi-aksi yang dilakukan belakangan ini,” katanya.

Usep menyoroti akar masalah yang sama, yakni kesenjangan sosial, korupsi, dan ekonomi yang enggak karuan. Rakyat jenuh dengan biaya hidup yang naik, pengangguran yang tak kunjung teratasi, plus pejabat yang doyan pamer gaya hidup mewah. 

“Kesenjangan kesejahteraan antara pejabat publik dengan kinerja dan kehidupan rakyat yang masih di bawah standar kemakmuran,” ujarnya.

Yang bikin menarik, baik di Nepal maupun Indonesia, motor utamanya adalah generasi muda. Bedanya, Gen Z di Nepal sudah berhasil menjatuhkan perdana menteri, sementara di Indonesia masih sibuk mengatur strategi lewat ruang kelas, ruang rapat BEM, dan tentu saja—ruang medsos.

BACA JUGA:Banjir Sampai Leher di Denpasar, Gibran Cuma Kasih Obatnya Handuk dan Mainan

Meski begitu, peringatan tetap datang dari peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional, Siti Zuhro. Ia menekankan, krisis politik Nepal harus jadi alarm dini bagi Prabowo. “Dampak pemerintahan yang represif dan fenomena kesengsaraan rakyat tidak boleh dianggap sepele, tapi harus direspons dan diberi solusi yang tuntas,” kata Siti.

Solusinya bagi dia pemimpin harus amanah, pejabat publik mesti kompeten, DPR wajib transparan dan akuntabel. Partai politik pun dituntut berhenti asal comot kader untuk kursi kekuasaan. “Agar kader-kader yang dikirim ke semua cabang kekuasaan baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif adalah kader-kader yang memiliki kualifikasi dan berkualitas,” tegas Siti.

Kalau Nepal bisa bikin perdana menterinya jatuh cuma lewat desakan jalanan, Indonesia masih harus puas dengan “aksi gado-gado” yang sering bubar karena bentrok dengan aparat. Bedanya, rakyat Nepal melemparkan api ke rumah pejabat, rakyat Indonesia masih dilempar gas air mata.

Pertanyaannya, apakah mahasiswa dan rakyat Indonesia bakal menyalakan lagi api itu atau biarkan bara hanya menyala di timeline medsos?

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya