Budi Arie Tegaskan Nama Projo Bukan Singkatan dari Pro-Jokowi, Siap Dukung Pemerintahan Prabowo
Menkominfo, Budi Arie Setiadi Ingin Cegah Kebocoran Data Masyarakat-@budiariesetiadi-Instagram
SEMARAKNEWS.CO.ID - Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, akhirnya buka suara soal anggapan bahwa nama organisasi relawan tersebut merupakan singkatan dari Pro-Joko Widodo atau Pro-Jokowi.
Dalam keterangannya, Budi menegaskan bahwa hal itu tidak benar.
“Projo itu bukan singkatan dari Pro-Jokowi. Projo itu bahasa Sanskerta-nya berarti negeri, dan dalam bahasa Jawa Kawi artinya rakyat,” ujar Budi Arie di sela-sela Kongres III Projo yang digelar di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (1 November 2025).
Ia menyebut, istilah Pro-Jokowi muncul karena masyarakat dan media merasa lebih mudah melafalkannya.
“Projo memang enggak ada singkatannya. Cuma teman-teman media kan ya, Projo (Pro-Jokowi) itu karena gampang dilafalkan saja,” tambahnya sambil tersenyum.
Kegiatan Kongres III Projo yang digelar pada 1–2 November 2025 ini dihadiri oleh sekitar 3.000 peserta dari 35 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan 479 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari seluruh Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Budi Arie menegaskan bahwa Projo kini sedang menjalani transformasi organisasi besar-besaran.
Salah satu langkah penting dalam transformasi tersebut adalah rencana perubahan logo Projo, yang selama ini dikenal dengan gambar siluet wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Kemungkinan besar logo Projo akan kami ubah, dan keputusannya akan diambil dalam kongres ini. Kami ingin logo baru yang tidak lagi terkesan kultus individu,” jelas Budi Arie.
Logo lama Projo menampilkan wajah Jokowi dalam siluet hitam-merah dengan tulisan “Projo” di bawahnya.
Budi menilai perubahan ini penting agar organisasi tidak bergantung pada satu figur, melainkan berdiri sebagai gerakan rakyat yang mandiri dan visioner.
Projo Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran
Dalam arahannya di hadapan para peserta kongres, Budi Arie juga menegaskan posisi politik Projo pasca berakhirnya masa pemerintahan Presiden Jokowi.
Menurutnya, Projo kini berkomitmen untuk mendukung penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Projo adalah pelopor pendukung Prabowo-Gibran. Karena kami percaya ini mandat rakyat. Kami ingin dukung dan perkuat agar pemerintahan ini tidak gagal,” tegasnya.
Seruan Budi Arie itu pun langsung dijawab lantang oleh para peserta kongres dengan satu suara, “Siap!”
Ia menambahkan, dukungan tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan akan diwujudkan dalam langkah konkret melalui penguatan struktur organisasi dan sinergi politik di akar rumput.
Perkuat Agenda Politik Nasional
Budi Arie menilai, transformasi Projo bukan hanya tentang perubahan visual atau identitas organisasi, tetapi juga bentuk penyesuaian terhadap dinamika politik nasional yang terus berkembang.
“Geopolitiknya tidak mudah, tantangan global besar, jadi persatuan nasional menjadi hal penting. Karena itu, kami akan memperkuat seluruh agenda politik Presiden Prabowo dengan memperkuat partai politik pimpinan Presiden,” ujar mantan Menteri Koperasi dan UKM tersebut.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pemerintahan dan memastikan keberlanjutan pembangunan nasional.
Makna Baru Projo: Dari Relawan ke Gerakan Rakyat
Perubahan arah dan identitas ini juga menjadi simbol bahwa Projo bukan lagi sekadar organisasi relawan, melainkan gerakan rakyat yang lebih luas.
Dengan arti rakyat atau negeri, Projo ingin menegaskan posisinya sebagai bagian dari elemen bangsa yang siap berkontribusi di berbagai bidang bukan hanya dalam politik, tetapi juga ekonomi, sosial, dan kebangsaan.
“Projo akan terus menjadi bagian dari kekuatan rakyat yang mendukung pemerintahan, tetapi juga tetap kritis dan konstruktif,” tutur Budi Arie.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-