Food Genomics Makin Dilirik, Pola Makan Berbasis DNA Disebut Lebih Efektif dari Diet Konvensional
Kenali Food Genomics, Cara Baru Menentukan Pola Makan Sesuai DNA Tubuh Anda---Dok. Istimewa
Kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D
Asupan lemak esensial seperti omega-3
Rekomendasi jenis dan intensitas aktivitas fisik
“Secara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik bersifat tetap. Namun dalam penerapannya, faktor epigenetik dan lingkungan seperti gaya hidup, tingkat stres, dan aktivitas fisik tetap perlu dipertimbangkan. Inilah alasan mengapa diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” jelas dr. Davie.
Selain itu, panel nutrigenomik juga dapat memberikan gambaran potensi alergi atau intoleransi makanan, sehingga membantu individu menghindari asupan yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan di kemudian hari.
Bukan Pengganti Pola Hidup Sehat Dasar
Meski menawarkan pendekatan yang lebih presisi, food genomics bukanlah pengganti prinsip dasar hidup sehat. Menurut dr. Davie, masyarakat tetap dapat memulai langkah sederhana dengan:
Makan secara teratur dan tidak melewatkan waktu makan
Mengonsumsi makanan dengan komposisi gizi seimbang
Menjaga aktivitas fisik dan kualitas istirahat
Food genomics berperan sebagai alat pendukung, bukan solusi instan.
Masa Depan Nutrisi Personal di Indonesia
Ke depan, food genomics diproyeksikan berkembang sebagai salah satu pilar gaya hidup sehat berbasis presisi. Integrasi dengan kecerdasan buatan (AI), big data, serta perangkat wearable diyakini akan semakin memperkuat akurasi rekomendasi nutrisi individual.
"Harapannya, food genomics dapat menjadi alat bantu dalam menentukan pola makan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” tutup dr. Davie.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-