Penjualan Mobil Baru Lesu Bertahun-tahun, Ekonom Ungkap Fakta Mengejutkan

Penjualan Mobil Baru Lesu Bertahun-tahun, Ekonom Ungkap Fakta Mengejutkan

IMOS 2025: New Honda ADV160 Jadi Primadona, Honda Catat Penjualan 562 Unit---Dok. Istimewa

SEMARAKNEWS.CO.ID - Pasar otomotif nasional, khususnya di segmen mobil baru, masih menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir.

Tren penurunan penjualan tidak hanya terjadi sesaat, tetapi berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan, baik dari sisi penjualan ritel (dealer ke konsumen) maupun wholesales (distribusi pabrik ke jaringan dealer).

Data terbaru menunjukkan bahwa hingga memasuki tahun 2026, industri mobil nasional belum sepenuhnya bangkit. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pelaku industri dan konsumen: apa penyebab utama pasar mobil baru terus menyusut?

Sepanjang tahun 2025, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan mobil baru secara ritel tercatat mengalami penurunan sekitar 6,3 persen dibandingkan capaian tahun 2024.

Penurunan yang lebih dalam justru terjadi pada sisi wholesales, yang tercatat merosot hingga 7,2 persen. Angka ini menunjukkan bahwa distribusi kendaraan dari pabrikan ke dealer juga ikut tertekan, mencerminkan kehati-hatian produsen dalam menyerap pasar.

Tren negatif ini sejatinya sudah dimulai sejak 2024. Pada tahun tersebut, penjualan mobil secara wholesales anjlok sekitar 13,9 persen dibandingkan 2023, sementara penjualan ritel juga turun cukup tajam sebesar 10,9 persen.

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Riyanto, menilai bahwa faktor utama melemahnya pasar mobil baru berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat yang menurun.

BACA JUGA:Perbandingan Honda BR-V vs Mitsubishi Xpander 2023 Bekas, Pilih Mana untuk Dibeli di 2026?

“Intinya sebenarnya satu, daya beli. Harga mobil memang lebih tinggi daripada pendapatan masyarakat secara umum,” ujar Riyanto.

Menurutnya, kenaikan harga kendaraan tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan yang signifikan, sehingga masyarakat semakin berhitung dalam mengambil keputusan pembelian mobil baru.

Berdasarkan hasil penelitian tim LPEM UI, lemahnya daya beli masyarakat tidak bisa dilepaskan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stagnan di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Laju pertumbuhan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mendorong lonjakan pendapatan masyarakat secara signifikan, terutama jika dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya.

“Pendapatan per kapita sudah pasti gede atau mungkin naiknya tidak sebesar di periode dasawarsa sebelumnya,” jelas Riyanto.

Kondisi ini membuat banyak rumah tangga memilih menahan pengeluaran besar, termasuk pembelian mobil baru.

Faktor krusial lain yang disoroti Riyanto adalah menyusutnya kelompok kelas menengah, yang selama ini menjadi tulang punggung pasar mobil baru di Indonesia.

Ia menjelaskan, jumlah masyarakat kelas menengah yang sebelumnya berada di kisaran 5–7 juta orang pada 2019, meningkat secara nominal menjadi sekitar 9–10 juta orang pada 2024, namun secara proporsi justru menyusut, sehingga kelompok menengah tersisa sekitar 47 juta jiwa.

Kelompok ini biasanya memiliki pola konsumsi khas, yakni mengganti kendaraan setiap tiga hingga lima tahun. Namun, tekanan ekonomi membuat pola tersebut berubah.

“Kelompok ini sebenarnya biasanya ganti mobil cepat ya, tiga tahun, lima tahun ganti, namun sekarang lebih lama,” kata Riyanto.

Selain kelas menengah, terdapat pula calon konsumen pembeli pertama (first buyer) yang sejatinya memiliki kemampuan membeli mobil baru, namun memilih menunda keputusan.

BACA JUGA:Murah Tapi Tangguh! Ini 7 Laptop Lenovo ThinkPad Bekas yang Masih Sangat Layak Dipakai

Sebagian dari mereka bahkan beralih ke pasar mobil bekas yang dinilai lebih terjangkau dan rasional di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

“Ada beberapa kelompok yang sebenarnya untuk first buyer itu bisa membeli tapi tertunda, tidak bisa membeli sekarang atau dia bergeser membeli mobil bekas,” lanjutnya.

Hal ini sejalan dengan tren pasar kendaraan bekas yang justru menunjukkan pertumbuhan positif hingga 2024, berbanding terbalik dengan pasar mobil baru.

Penurunan Pasar Mobil Baru Sudah Capai 30 Persen

Jika dibandingkan dengan kondisi pasar otomotif pada 2013, Riyanto menyebut bahwa penurunan pasar mobil baru saat ini sudah mencapai sekitar 30 persen.

Kelompok masyarakat yang tidak menikmati pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir, khususnya periode 2019–2024, menjadi kelompok paling terdampak.

“Ini kan kelompok-kelompok menengah yang sebenarnya di pertumbuhan ekonomi 5 persen tidak banyak memperoleh kue ekonomi selama lima tahun itu,” pungkasnya.

Diprediksi Masih Stagnan di 2026

Melihat berbagai faktor tersebut, pasar mobil baru di Indonesia diperkirakan masih akan stagnan sepanjang 2026. Tanpa adanya dorongan kuat, pemulihan dalam waktu dekat dinilai cukup sulit.

“Kecuali pemerintah memberikan stimulus untuk merangsang pasar,” tutup Riyanto.

 

Stimulus yang dimaksud bisa berupa insentif pajak, kemudahan kredit, atau kebijakan lain yang mampu mengerek kembali daya beli masyarakat dan minat membeli mobil baru.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya