Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU
Pertemuan ini menyiratkan gaung yang bersambut setelah PCNU Cirebon Raya secara resmi mengajukan diri sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.-Dok SN-
Di tanah ini berdiri kokoh pesantren-pesantren sepuh yang menjadi benteng penjaga sanad keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah, seperti Pesantren Babakan, Buntet, Gedongan, hingga Balarante.
Mereka bukanlah lembaga pendidikan kemarin sore, melainkan rahim sejarah yang telah melahirkan ribuan ulama, kiai, pejuang, serta kader-kader penggerak NU lintas zaman.
Lebih dari itu, Cirebon menyimpan jejak spiritual yang teramat dalam.
Berdirinya maqbarah dan jejak dakwah Sunan Gunung Jati menjadi penanda abadi bahwa sejak mula, Cirebon adalah pusat penyebaran Islam yang mengedepankan hikmah, kebudayaan, dan persatuan.
Menggelar Muktamar NU di Cirebon sama artinya dengan menghadirkan kembali ingatan kolektif umat tentang akar dakwah Islam yang teduh, moderat, dan membumi.
Di tengah tantangan zaman yang kian mengeras, napas dakwah Sunan Gunung Jati adalah oase yang sangat relevan untuk terus dihidupkan oleh jam'iyah.
BACA JUGA:Kekerasan Seksual di Pesantren Pati: PNIB Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Ajaran Menyimpang
Mata Air Perjuangan Nahdlatul Ulama
Secara historis, Cirebon memiliki ikatan darah dengan sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama. Banyak tokoh besar NU yang lahir, dibesarkan, dan berkiprah di kawasan Cirebon Raya.
Kita tentu mengingat sosok KH Abbas Abdul Jamil dari Buntet Pesantren, ulama kharismatik yang menjadi panglima laskar jihad NU pada masa Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Peran heroisme beliau dalam menggerakkan santri adalah bagian tak terpisahkan dari tegaknya republik ini.

Gus Ipul (kiri) dan Kiai Imjaz: Dalam pembacaan politik-organisatoris, kehadiran Gus Ipul di Cirebon adalah sebuah sinyalemen yang sangat terang.-Dok SN-
Selain itu, ada pula KH Abdul Chalim, tokoh kunci dan salah satu pendiri NU yang menjabat sebagai sekretaris Tanfidziyah pertama. Secara historis dan sosiologis, kiprah beliau masih berada dalam orbit kultural Cirebon Raya.
Fakta-fakta ini menegaskan satu hal: dalam peta sejarah NU, Cirebon adalah salah satu mata air utama yang ikut menghidupkan dan menjaga nyala organisasi sejak masa embrio hingga hari ini.
Kesiapan Pragmatis: Episentrum yang Rasional
Romantisme sejarah tentu tak cukup untuk menyelenggarakan hajat raksasa sekelas Muktamar. Di sinilah letak keunggulan rasional Cirebon yang diyakini turut menjadi pertimbangan utama Gus Ipul.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-