Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut marut PBNU
Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut marut PBNU-Dok-
فَإِنَّ رَفِيْعَ الْقَوْمِ مَنْ يَتَوَاضَعْ
"Rendah hatilah ketika engkau memperoleh kedudukan di tengah manusia. Sesungguhnya orang yang paling tinggi derajatnya di suatu kaum adalah mereka yang rendah hati."
Begitu pula petuah yang lain:
تَوَاضَعْ إِذَا مَا كَانَ قَدْرُكَ عَالِيًا
فَإِنَّ اتِّضَاعَ الْمَرْءِ مِنْ شِيَمِ الْعَقْلِ
"Rendah hatilah ketika kedudukanmu tinggi, karena kerendahan hati adalah salah satu tanda kematangan akal."
Dua bait hikmah itu terasa sangat relevan bagi perjalanan , Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua. Organisasi ini tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar populer, tetapi pemimpin yang mampu menghadirkan keteduhan. Tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga mampu mendengar. Tidak hanya pandai mengelola organisasi, tetapi juga mampu menjaga hati seluruh warganya.
BACA JUGA:JSN Tegaskan Dukungan pada Supremasi Syuriyah PBNU dan Serukan Persatuan Warga NU
• Poros tengah Solusi Abad ke 2, Nahdlatul Ulama
Pada akhirnya, poros tengah bukan sekadar pilihan politik organisasi. Ia adalah ikhtiar untuk mengembalikan, Nahdlatul Ulama kepada watak aslinya: rumah besar yang menaungi semua, mempersatukan semua, dan mengabdi kepada semua. Sebab , Nahdlatul Ulama yang besar bukanlah, Nahdlatul Ulama yang dipenuhi kegaduhan, melainkan, Nahdlatul Ulama yang kokoh karena adab, kuat karena persaudaraan, dan mulia karena keikhlasan para pengabdinya.
Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan yang berbeda dengan satu abad pertama. Jika dahulu para muassis berjuang mendirikan dan mengokohkan jam'iyah, maka hari ini tantangannya adalah menjaga ruh pengabdian agar tidak tergerus oleh kepentingan sesaat, polarisasi, maupun intrik yang dapat mengikis ukhuwah.
Dalam pandangan banyak warga , Nahdlatul Ulama, abad kedua bukan sekadar tentang pergantian kepemimpinan, melainkan momentum untuk menghadirkan kembali kepemimpinan yang berangkat dari keikhlasan. Kepemimpinan yang tidak dibangun oleh ambisi, tetapi oleh amanah. Tidak digerakkan oleh hasrat menguasai, tetapi oleh keinginan melayani.
Pada titik inilah, Banyak kalangan menaruh harapan kepada Gus Gudfan Arif Ghofur. Harapan tersebut bukan semata karena sosoknya, melainkan karena nilai-nilai yang dipandang melekat pada dirinya: kesederhanaan, kemampuan merangkul, dan pilihan untuk bekerja lebih banyak daripada berbicara. NU sejak awal didirikan oleh para ulama yang meyakini bahwa keberkahan organisasi lahir dari keikhlasan (ikhlas) dan persaudaraan (ukhuwah). Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu."
(QS. Al-Hujurat: 10)
BACA JUGA:BNM Dukung Penuh Penetapan KH. Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum PBNU: Keputusan Wajib Dihormati
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-