Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut marut PBNU

Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut marut  PBNU

Gus Gudfan Merupakan Poros Tengah, Solusi Carut marut PBNU-Dok-

Ayat tersebut bukan hanya berbicara tentang hubungan antar individu, tetapi juga menjadi fondasi bagi setiap organisasi Islam agar menjaga persatuan di atas kepentingan kelompok. Dalam tradisi NU, para masyayikh juga mewariskan prinsip bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan wasilah untuk menghadirkan kemaslahatan.

Karena itu, kepemimpinan yang lahir dari hati nurani warga jam'iyah akan lebih kokoh dibanding kepemimpinan yang dibangun oleh pertarungan kepentingan. Harapan terhadap Gus Gudfan Arif Ghofur muncul dari keinginan agar NU memasuki abad keduanya dengan semangat yang lebih teduh: tanpa saling menjatuhkan, tanpa politik pecah belah, dan tanpa mengorbankan persaudaraan demi kemenangan sesaat. Harapan ini adalah aspirasi yang hidup di banyak  warga NU, bukan sebuah klaim bahwa seluruh warga , Nahdlatul Ulama memiliki pandangan yang sama.

Membangun, Nahdlatul Ulama pada abad kedua memerlukan pemimpin yang mampu menjadi titik temu berbagai elemen—ulama, santri, akademisi, profesional, saudagar, dan generasi muda—dalam satu cita-cita besar: menjaga khidmah kepada umat.

Persatuan tidak lahir karena semua orang memiliki pendapat yang sama, tetapi karena semua sepakat menempatkan kepentingan jam'iyah di atas kepentingan pribadi. Sebagaimana diajarkan oleh para pendiri, Nahdlatul Ulama, organisasi ini akan tetap besar apabila dipimpin oleh orang-orang yang siap mengabdi, bukan sekadar memimpin. Sebab sejarah, Nahdlatul Ulama selalu dibangun oleh mereka yang bekerja dengan hati, menghormati para ulama, dan memandang persaudaraan sebagai kekuatan utama.

BACA JUGA:FPN Angkat Suara Soal PBNU, Soroti Konflik Internal dan Kurangnya Ketegasan

Abad kedua Nahdlatul Ulama bukanlah tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang paling ikhlas menjaga warisan para muassis. Jika kepemimpinan dijalankan dengan hati yang bersih, menjauhi intrik, serta berorientasi pada kemaslahatan umat, maka , Nahdlatul Ulama akan terus menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh warganya. Dalam semangat itulah, banyak warga, Nahdlatul Ulama berharap Gus Gudfan Arif Ghofur dapat menjadi bagian dari ikhtiar membawa, Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya dengan keteduhan, persatuan, dan pengabdian yang murni.

Oleh: M. Nadhim Ardiansyah (Cicit KH Irfan bin Musa, Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal)

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya