Orang Utan Sudah Punya Apotek Sendiri, Manusia Malah Sibuk Rusak Hutannya

Orang Utan Sudah Punya Apotek Sendiri, Manusia Malah Sibuk Rusak Hutannya

Studi terbaru mengungkap orang utan Kalimantan mengonsumsi dan memakai tanaman obat, membuka pelajaran penting bagi kesehatan manusia.-Foto: Kementerian Kehutanan-

JAKARTA, Semaraknews.co.id – Selama ini manusia merasa menjadi spesies paling pintar di muka bumi. Namun urusan mencari obat dari alam, penelitian terbaru justru menunjukkan kita mungkin masih kalah pengalaman dibanding orang utan Kalimantan.

Temuan itu berasal dari riset gabungan para ilmuwan dari University of Exeter, Brown University, Universidade do Porto, Borneo Nature Foundation Indonesia, dan Universitas Palangka Raya. Mereka meneliti pola makan orang utan Kalimantan liar (Pongo pygmaeus) untuk mengetahui apakah satwa tersebut sengaja mengombinasikan tumbuhan tertentu yang memiliki manfaat pengobatan.

Sebenarnya dugaan bahwa orang utan mengonsumsi tanaman berkhasiat obat bukanlah hal baru. Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa primata besar itu mampu memilih tumbuhan tertentu sebagai bagian dari perilaku pengobatan alami. Studi terbaru ini memperkuat dugaan tersebut dengan bukti yang jauh lebih lengkap.

“Kami menggunakan data jangka panjang mengenai pola makan orang utan Kalimantan dari hutan rawa gambut Sebangau di Kalimantan Tengah untuk menganalisis pola penggunaan tumbuhan sekaligus mengevaluasi potensi manfaat pengobatannya,” tulis tim peneliti dalam makalah tersebut.

Hasil analisis memperlihatkan bahwa pilihan makanan orang utan bukan terjadi secara kebetulan.

BACA JUGA:Koperasi Kini Dibawa Masuk Tambang dan Sumur Minyak, Negara Buka Jalan Baru atau Buka Ladang Baru?

“Analisis kami mengungkapkan adanya kombinasi pola makan yang tidak acak dengan melibatkan spesies tumbuhan yang telah diketahui memiliki khasiat etnomedisinal dan farmakologis.”

Selama dua dekade penelitian, para ilmuwan mengumpulkan data yang sangat besar.

“Secara keseluruhan kami mencatat 12.236 peristiwa makan yang dilakukan oleh 55 individu orang utan selama 2.419 hari dalam kurun waktu 20 tahun. Mereka mengonsumsi 202 spesies tumbuhan berbeda beserta berbagai bagiannya, mulai dari buah, daun, empulur, akar, bunga, getah hingga kulit kayu.”

Tak berhenti di situ, tim peneliti juga menggali pengetahuan masyarakat lokal mengenai tanaman obat yang ada di habitat orang utan. Mereka melakukan wawancara semi-terstruktur dengan Hendri Shagara dan Iwan Shinyo yang selama lebih dari sepuluh tahun menjadi staf lapangan sekaligus pemandu botani Borneo Nature Foundation.

Menurut peneliti, informasi etnobotani yang dimiliki keduanya mewakili pengetahuan masyarakat Dayak mengenai tumbuhan berkhasiat obat.

“Survei etnomedisinal kami yang didasarkan pada data ekstensif yang dikumpulkan Badri dan rekan-rekannya serta wawancara dengan Hendri Shagara dan Iwan Shinyo berhasil mengidentifikasi 64 spesies tumbuhan yang memiliki nilai medis bagi masyarakat Dayak sekaligus tercatat sebagai bagian dari makanan orang utan.”

BACA JUGA:Tito Bongkar Borok Pilkada, Kepala Daerah Korup Bukan Cuma Serakah, Tapi Harus Balikin Modal!

Para peneliti kemudian menarik kesimpulan yang lebih luas.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya