Aset Keuangan Syariah Tembus Rp3.131 Triliun, Tapi Pangsa Pasarnya Masih Kalah Telak dari Konvensional

Aset Keuangan Syariah Tembus Rp3.131 Triliun, Tapi Pangsa Pasarnya Masih Kalah Telak dari Konvensional

BI menyebut ekonomi syariah Indonesia berpotensi jadi sumber pertumbuhan baru dengan aset keuangan syariah mencapai Rp3.131 triliun.-Foto: Antara-

Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong inovasi produk investasi berbasis syariah. Bank syariah juga didorong tidak melulu bertarung melalui harga dan layanan, melainkan memanfaatkan keunikan produk syariah untuk menangkap kebutuhan industri halal.

Pemanfaatan akad syariah diharapkan dapat diperluas dalam pembiayaan, investasi, transaksi jual-beli, hingga sewa. Dengan begitu, bank syariah tidak sekadar menjadi versi lain dari bank konvensional dengan label berbeda.

Namun, ketika aset terlihat makin montok, masalah pangsa pasar masih menghantui. Deputi Direktur Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Eka Jati R. Firmansyah mengatakan sektor Keuangan Syariah memang masih tumbuh positif hingga April 2026, tetapi lajunya mulai menunjukkan tanda perlambatan.

Total aset keuangan syariah tumbuh 6,4 persen secara tahunan hingga April 2026. Angka tersebut masih positif, tetapi berada di bawah pertumbuhan sektor keuangan nasional yang mencapai 8,7 persen.

Eka menyebut rasio total aset keuangan syariah terhadap produk domestik bruto pada Desember 2025 mencapai 51,78 persen. Angka tersebut bahkan melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional sebesar 45,38 persen.

Masalahnya, tren aset sejak awal 2026 justru mulai menurun. Kondisi tersebut membuat pangsa pasar keuangan syariah pada April turun 0,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kita harus tetap waspada karena ada tren penurunan total aset sejak awal 2026 sehingga membuat pangsa pasar keuangan syariah per April itu agak sedikit menurun menjadi 0,5 persen dibanding tahun sebelumnya,” kata Eka dalam webinar KNEKS, Jumat, 7 Agustus 2026.

BACA JUGA:Pemilik Rumah Kontrakan Bisa Napas Dulu, DJP Bantah Ada Pajak Baru Mulai 2027

Salah satu biang kerok perlambatan tersebut berada di pasar modal syariah. Kapitalisasi saham syariah turun 19 persen atau Rp1.745 triliun dibandingkan Desember 2025. Penurunan itu dipengaruhi kinerja negatif Indeks Harga Saham Gabungan serta perubahan kriteria Daftar Efek Syariah (DES).

Perbankan syariah justru masih menunjukkan daya tahan yang lebih baik. Hingga April 2026, total asetnya mencapai Rp1.055 triliun atau tumbuh 11 persen secara tahunan. Dana Pihak Ketiga tumbuh 12,1 persen, sedangkan pembiayaan meningkat 10,7 persen.

Pangsa pasar perbankan syariah juga naik tipis dari 7,44 persen menjadi 7,46 persen. Artinya, sektor perbankan masih menjadi salah satu mesin yang relatif kuat di tengah perlambatan industri keuangan syariah secara keseluruhan.

Pasar modal syariah mencatat total aset Rp9.178,71 triliun atau tumbuh 5,82 persen, dengan pangsa pasar mencapai 41 persen dari pasar modal nasional. Kapitalisasi saham syariah juga kembali tumbuh 1,02 persen pada Maret hingga April 2026 setelah sebelumnya tertekan sepanjang kuartal I.

Jumlah saham yang masuk dalam Daftar Efek Syariah periode I 2026 justru menyusut menjadi 622 saham dari sebelumnya 688 saham. Perubahan tersebut terjadi seiring penerapan POJK Nomor 8 Tahun 2025.

Sementara itu, outstanding Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) hingga April 2026 mencapai Rp1.745,88 triliun atau setara 25,46 persen dari total Surat Berharga Negara.

Senior analis Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai prospek ekonomi syariah tahun ini masih relatif positif. Namun, pertumbuhan aset yang sudah menembus Rp3.100 triliun belum otomatis berarti industri tersebut sudah menjadi pemain dominan dalam sistem keuangan nasional.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya