Bukan Cuma Pikiran, Usus Juga Ikut Campur Saat Tubuh Dilanda Stres

Bukan Cuma Pikiran, Usus Juga Ikut Campur Saat Tubuh Dilanda Stres

Penelitian mengungkap mikrobioma usus ikut memengaruhi respons tubuh terhadap stres. Keragaman mikroba ternyata berkaitan dengan reaksi stres.-Foto: Dok. Health.-

Masalah baru muncul ketika zebra tadi sudah berhasil kabur dari singa, tetapi tubuhnya terus merasa sedang dikejar singa. Inilah gambaran sederhana mengenai stres kronis.

Stres kronis terjadi ketika sistem yang berkaitan dengan stres terus aktif dalam waktu lama atau berulang kali. Pada manusia, pemicunya bisa berupa kekhawatiran yang tidak kunjung selesai, tekanan sosial, ketidakpastian, tenggat waktu, maupun paparan berulang terhadap situasi sulit tanpa waktu pemulihan yang cukup.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat mengganggu sistem pengatur hormon stres dan memengaruhi otak, sistem kekebalan tubuh, serta mikrobioma usus.

“Mikrobioma yang lebih beragam mungkin lebih tahan terhadap gangguan ini,” tambah Karner. “Namun, diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami bagaimana keragaman mikrobioma memengaruhi transisi dari respons stres adaptif jangka pendek menuju konsekuensi negatif dari stres kronis.”

Artinya, jangan buru-buru menyalahkan usus setiap kali hidup terasa seperti sedang dikejar deadline. Penelitian ini baru menunjukkan adanya hubungan, bukan berarti mikrobioma adalah satu-satunya dalang.

Gen, Pengalaman, sampai Kepribadian Ikut Bermain

Genetika juga berperan dalam menentukan bagaimana seseorang mengalami stres, menurut Riley. Manusia pada dasarnya mengembangkan sistem respons stres untuk membantu nenek moyang menghadapi ancaman secara cepat.

Perbedaan genetik individu kemudian dapat membuat sistem tersebut bekerja dengan tingkat reaktivitas yang berbeda.

“Kita memiliki perbedaan individu,” kata Sinha. “Beberapa gen lebih reaktif, dan beberapa gen lain kurang reaktif pada orang yang berbeda.”

Bahkan pengalaman yang terjadi sebelum seseorang lahir dapat ikut membentuk respons tubuh terhadap stres. Salah satu mekanismenya berkaitan dengan epigenetika, yakni perubahan kimia yang memengaruhi cara gen diekspresikan tanpa mengubah DNA itu sendiri.

BACA JUGA:Wajah Prabowo Berkibar di Langit Istana, Istana Bilang Itu Kebanggaan, Rakyat Disuruh Paham

Sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam jurnal Genes terhadap 71 penelitian menemukan bukti yang menghubungkan pengalaman traumatis dengan perubahan epigenetik yang berkaitan dengan pengaturan stres. Namun, para peneliti masih mencari tahu berapa lama perubahan tersebut bertahan dan apakah perubahan itu dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tinjauan tersebut berjudul “Predisposisi Genetik dan Faktor Ketahanan Genetik pada Gangguan Terkait Stres Selama Masa Perkembangan”.

Pengalaman hidup setelah lahir juga tidak kalah penting. “Sejak lahir, reaksi kita terhadap stresor sangat kompleks dan tertanam dalam pikiran dan tubuh kita,” kata Riley. “Saat kita tumbuh, kita belajar dari setiap pengalaman, dan sistem saraf kita memberikan perhatian khusus pada pengalaman yang menegangkan atau traumatis.”

Namun, pengalaman yang membentuk respons stres tidak harus selalu berupa trauma besar.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya