Satgas Udara Taburkan 29 Ton Garam untuk Atasi Karhutla di Riau Sejak Februari
Satgas Udara Taburkan 29 Ton Garam untuk Atasi Karhutla di Riau Sejak Februari--istockphoto.com
SEMERAKNEWS.CO.ID - Satuan Tugas Udara terus mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau melalui Operasi Modifikasi Cuaca. Sejak Februari hingga Agustus 2026, sebanyak 29 ton garam telah ditebar dari udara untuk memicu hujan di wilayah yang memiliki awan berpotensi menghasilkan curah hujan.
Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Riau Marsma TNI Abdul Haris mengatakan hasil operasi dapat menjangkau area secara lebih merata dibandingkan pemadaman manual atau water bombing. Namun, keberhasilan penyemaian garam sangat bergantung pada keberadaan awan yang sesuai. Tanpa awan potensial, operasi tidak dapat bekerja maksimal.
BACA JUGA:Asap Karhutla Meluas, BNPB dan Kemenkes Distribusikan Lebih dari 200 Ribu Masker untuk Cegah ISPA
Kendala itu sempat terjadi selama hampir dua pekan terakhir ketika Riau minim awan pembawa hujan. Situasi berubah dalam beberapa hari terakhir setelah awan potensial mulai muncul. Satgas kemudian kembali mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengurangi risiko meluasnya titik api.
Dalam misi terbaru, pesawat Cessna Caravan digunakan untuk membawa dan menjatuhkan garam di wilayah selatan Pekanbaru. Pesawat tersebut menyasar Kabupaten Pelalawan sebelum diarahkan ke kawasan utara Riau. Penerbangan berikutnya ditujukan untuk menyemai awan di Kabupaten Bengkalis dan Siak.
Pelalawan menjadi salah satu sasaran prioritas karena masih menyimpan sejumlah titik api dan belum memperoleh guyuran hujan. Penaburan garam dilakukan dengan menyesuaikan kondisi awan, sehingga lokasi dan waktu penerbangan tidak semata-mata ditentukan berdasarkan sebaran kebakaran. Faktor cuaca menjadi penentu utama dalam setiap sortie operasi.
BACA JUGA:Demo DPR Hari Ini Ganggu Layanan Transjakarta, Dua Rute Palmerah Dihentikan Sementara
Operasi modifikasi cuaca tidak menggantikan pemadaman di darat maupun langkah penanganan lainnya. Strategi tersebut berfungsi sebagai dukungan untuk menambah pasokan air secara lebih luas ketika hujan berpeluang terbentuk. Satgas udara tetap harus menimbang kesiapan awan agar garam yang ditebar dapat menghasilkan dampak sesuai sasaran.
Hujan yang turun di sejumlah wilayah Riau menjadi tanda awal hasil positif operasi, tetapi kondisi itu belum berarti ancaman karhutla sepenuhnya berakhir. Selama masih terdapat titik api dan wilayah tanpa hujan, pemantauan serta penanganan terpadu tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
Waktu penerbangan menjadi bagian penting operasi modifikasi cuaca. Satgas harus memastikan awan yang disasar berpotensi hujan agar penyemaian garam memberi manfaat. Hasil misi ditentukan oleh kesiapan armada, lokasi titik api, dan dinamika cuaca Riau
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-