Perang Sowan Calon Ketua PBNU, Restu Kiai Jadi Rebutan

Perang Sowan Calon Ketua PBNU, Restu Kiai Jadi Rebutan

Jelang Muktamar PBNU ke-35, para calon ketua umum ramai sowan ke pesantren demi menggalang dukungan dan memburu restu para kiai.-Foto: Antara-

Di tengah parade sowan tersebut, suara dari kalangan pesantren ternyata tidak otomatis menjadi satu barisan. Ketua Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se-Indonesia atau MP3I Zaim Ma’shoem mengatakan sejumlah kandidat sudah bersilaturahmi ke pesantren sejak Juni 2026.

Salah satunya Muhammad Yusuf Chudlori. Menurut Zaim, kandidat tersebut datang dengan agenda perubahan.

“Dia bilang ingin memperbaiki NU,” ujar Zaim.

Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin juga sempat berbicara dengan Zaim. Namun Gus Kikin belum secara spesifik menyatakan dirinya maju. Menurut Zaim, Gus Kikin justru menggali informasi tentang suara warga NU dan kebutuhan jam’iyyah NU.

“Gus Kikin tidak spesifik mengatakan akan maju, tapi beliau menggali informasi bagaimana suara masyarakat NU dan kebutuhan jam’iyyah NU,” tutur Zaim.

MP3I kemudian menggelar halaqah nasional pada Rabu, 26 Agustus 2026. Forum tersebut mempertemukan perwakilan pesantren yang telah menunjukkan arah dukungannya. Hasilnya cukup menarik sekaligus menunjukkan bahwa pesantren tidak sedang berada dalam satu kapal yang sama.

Zaim menyebut sedikitnya ada empat kelompok yang berhadapan dalam perebutan kursi Ketua Umum PBNU ke-35.

Kelompok pertama mendukung kandidat yang membutuhkan rekomendasi penguasa, seperti Gus Kikin dan Nasaruddin Umar. Kelompok ini cenderung tidak menghendaki pemungutan suara dan mendorong mekanisme penunjukan.

“Golongan ini tak mau voting dan mendorong mekanisme penunjukan,” kata Zaim.

Kelompok kedua mendukung mekanisme pemilihan langsung dengan prinsip satu orang satu suara. Di kelompok ini terdapat nama seperti Yahya Cholil Staquf dan Muhaimin Iskandar yang sempat digadang-gadang maju.

Kelompok ketiga, menurut Zaim, adalah mereka yang sekadar mengejar panggung. Sementara kelompok terakhir merupakan kandidat yang tidak memperoleh dukungan dari para kiai khos.

“PBNU lebih membutuhkan kelompok yang pertama,” ujar Zaim.

Dengan begitu, muktamar kali ini bukan cuma perkara siapa yang paling banyak sowan, siapa yang paling rajin memaparkan visi-misi, atau siapa yang paling sering disebut mendapat restu. Di balik ramainya kunjungan ke pesantren, ada pertarungan tentang bagaimana NU akan memilih pemimpinnya, siapa yang memegang pengaruh, dan model kepemimpinan seperti apa yang sebenarnya diinginkan warga nahdliyin.

Pada akhirnya, semua kandidat boleh datang membawa program, visi, dan segudang janji. Namun pesantren tetap punya hak untuk tidak langsung percaya. Sebab dalam urusan politik organisasi sebesar NU, restu bisa diberikan, dukungan bisa berubah, dan klaim menang bisa muncul bahkan sebelum surat suara dibuka.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya