Perang Sowan Calon Ketua PBNU, Restu Kiai Jadi Rebutan
Jelang Muktamar PBNU ke-35, para calon ketua umum ramai sowan ke pesantren demi menggalang dukungan dan memburu restu para kiai.-Foto: Antara-
Nasaruddin kemudian menyatakan mundur dari bursa pencalonan karena memilih fokus memimpin Kementerian Agama.
Menurut Muid, para kandidat yang datang ke Lirboyo tidak sekadar meminta restu untuk maju. Mereka juga memaparkan visi, misi, dan program strategis yang ditawarkan untuk membawa PBNU ke arah yang mereka anggap lebih baik. Soal janji masing-masing kandidat kepada pesantren, Muid memilih menyimpannya sendiri.
“Gagasannya macam-macam, tapi semuanya bagus,” tuturnya.
BACA JUGA:Bongkar Rekam Jejak Para Calon Ketua PBNU di Muktamar Jombang
Muid sendiri menitipkan beberapa pekerjaan rumah kepada siapa pun yang nantinya terpilih. Ia berharap Ketua Umum PBNU berikutnya memberi perhatian lebih besar terhadap kesejahteraan pesantren dan ulama. Ia juga meminta sistem kaderisasi kepemimpinan di tubuh PBNU tidak mandek.
Fenomena serupa terjadi di Pondok Pesantren Al-Falah, Kediri. Pengasuhnya, Abdurrahman Al-Kautsar, mengatakan telah bertemu dengan sejumlah kandidat Ketua Umum PBNU. Kesempatan itu terbuka karena Al-Kautsar pernah menjadi sahibulbait dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU pada 20 hingga 23 Juni 2026.
Pesantren Al-Falah memiliki sekitar 13 ribu santri. Kepada para ulama dan pengasuh pesantren tersebut, para kandidat memaparkan program dan rencana kerja masing-masing. Al-Kautsar kemudian menyampaikan satu pesan yang terdengar sederhana, tetapi barangkali justru paling susah dilakukan setelah seseorang berhasil merebut kursi ketua umum.
“Itu harapan para kiai sepuh,” ujarnya, merujuk pada pesan agar para kandidat merangkul seluruh nahdliyin.
Namun safari pesantren sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum musim muktamar mendekati garis akhir. Abdussalam Shohib atau Gus Salam menjadi salah satu kandidat yang sejak awal 2026 aktif bergerilya ke berbagai pesantren. Ia memang sudah mendeklarasikan niat maju sebagai calon ketua umum sejak akhir 2024.
Nama Gus Salam bukan orang baru dalam riuh konflik internal NU. Ia pernah menggagas Muktamar Luar Biasa Nahdlatul Ulama dan menjadi Ketua Presidium Penyelamat Organisasi NU. Bersama sejumlah ulama, ia ketika itu kecewa terhadap kepemimpinan PBNU di bawah Yahya Cholil Staquf.
Kritik mereka menyasar sejumlah persoalan, mulai dari tata kelola organisasi, kasus korupsi yang menjerat pengurus, politisasi acara satu abad NU, hingga pembekuan kepengurusan di daerah.
Kini Gus Salam kembali mencoba peruntungan dengan mengumpulkan dukungan pesantren. Ia mengaku telah sowan ke Pesantren Tebuireng, Pesantren Al-Falah, Pesantren Bahrul Ulum, serta sejumlah pesantren di luar Jawa. Dalam kunjungannya, ia membawa satu gagasan yang cukup spesifik, yakni perlunya pembenahan pesantren.
BACA JUGA:Muktamar NU Memanas! Ada Paket Istana, AHWA, Duit, sampai Tuduhan Perintah Prabowo
Perhatian Gus Salam terutama diarahkan pada sistem pendidikan. Menurut dia, berbagai persoalan yang belakangan muncul di lingkungan pesantren menunjukkan bahwa pembenahan tidak bisa lagi ditunda.
“Mesti ada transformasi di pesantren karena banyak perkara yang belakangan ini terjadi di dalam lingkungan pesantren,” kata Abdussalam.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-