Banten Masih Waspada Abu Anak Krakatau, ke Arah Mana Angin Bawa Debunya?
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menjauh dari puncak, namun Banten tetap waspada memantau arah angin dan potensi dampaknya.-Foto: Dok. Kompas-
JAKARTA, Semaraknews.co.id -- Gunung Anak Krakatau kembali membuat publik menoleh. Namun kali ini, kabar baik datang dari arah pergerakan abu vulkanik yang mulai menjauh dari puncak gunung api tersebut.
Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra RGB Himawari-9, sebaran abu vulkanik pada Selasa, 8 September 2026 pukul 04.00 WIB terpantau bergerak menjauh dari puncak Anak Krakatau.
abu vulkanik di lapisan atmosfer rendah hingga ketinggian sekitar 6.000 kaki bergerak ke arah selatan-barat daya atau menuju Samudra Hindia. Artinya, untuk sementara arah sebaran material erupsi tidak mengarah ke kawasan padat penduduk.
Namun, pemerintah tidak lantas boleh duduk santai sambil menyeruput kopi. Sebab gunung api tidak pernah mengenal kata benar-benar tenang. Arah angin, curah hujan, dan kondisi atmosfer tetap menjadi faktor penting dalam menentukan risiko yang mungkin muncul.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II memprediksi curah hujan di seluruh wilayah Banten sepanjang September hingga Oktober 2026 masih berada pada kategori rendah, yakni 0-100 milimeter per bulan.
Curah hujan kategori menengah hingga tinggi diperkirakan baru mulai terjadi pada November 2026 dan meningkat hingga awal 2027. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan langkah mitigasi.
BACA JUGA:Delapan Orang Hilang di Selat Sunda, 5 Jurnalis Kejar Berita Gunung Anak Krakatau Malah Dicari SAR
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten Lutfi Mujahidin mengatakan arah angin menjadi salah satu acuan dalam mengambil keputusan, termasuk terkait aktivitas masyarakat.
"Contohnya tanggal 9 September angin ke arah barat laut, oh, berarti aman proses pendidikan di wilayah timur seperti Tangerang, Jakarta, Bogor," kata Lutfi Mujahidin.
Berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer di sekitar Gunung Anak Krakatau dan perairan sekitarnya, pola angin dalam beberapa hari ke depan menunjukkan perubahan arah dan kecepatan di setiap lapisan atmosfer.
Pada Senin, 7 September 2026, angin lapisan bawah atmosfer didominasi arah tenggara dengan kecepatan 5-25 knot. Angin lapisan menengah bergerak dari utara hingga tenggara dengan kecepatan 10-15 knot, sementara lapisan atas didominasi arah utara hingga timur laut dengan kecepatan 5-50 knot.
Pada Selasa, 8 September 2026, angin lapisan bawah bergerak dari timur hingga tenggara dengan kecepatan 5-20 knot. Lapisan menengah didominasi arah utara hingga timur dengan kecepatan 5-15 knot, sedangkan lapisan atas bergerak dari timur laut hingga timur dengan kecepatan 5-25 knot.
Memasuki Rabu, 9 September 2026, angin lapisan bawah masih didominasi arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 5-20 knot. Lapisan menengah bergerak dari barat hingga utara dengan kecepatan 5-10 knot, sementara lapisan atas bergerak dari timur laut hingga tenggara dengan kecepatan 5-45 knot.
BACA JUGA:Kontroversi Perkataan Ulta Viral soal Enam Gunung, Berikut Profil dan Latar Belakang Anak Buah Prabowo
Pada Kamis, 10 September 2026, angin lapisan bawah diprediksi bergerak dari timur hingga barat daya dengan kecepatan 2-20 knot. Angin lapisan menengah bergerak dari barat hingga utara dengan kecepatan 5-10 knot, sedangkan lapisan atas didominasi arah utara hingga tenggara dengan kecepatan 15-50 knot.
Pada Jumat, 11 September 2026, angin lapisan bawah bergerak dari timur laut hingga timur dengan kecepatan 2-15 knot. Lapisan menengah bergerak dari timur laut hingga barat dengan kecepatan 5-10 knot, sementara lapisan atas didominasi arah utara hingga timur dengan kecepatan 25-50 knot.
Pada Sabtu, 12 September 2026, angin lapisan bawah bergerak dari timur laut hingga timur dengan kecepatan 10-20 knot. Lapisan menengah didominasi arah timur laut hingga tenggara dengan kecepatan 5-10 knot, sedangkan lapisan atas bergerak dari utara hingga timur dengan kecepatan 30-40 knot.
Sementara pada Ahad, 13 September 2026, angin lapisan bawah didominasi arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 10-30 knot. Lapisan menengah bergerak dari timur laut hingga tenggara dengan kecepatan 2-15 knot, sedangkan lapisan atas didominasi arah timur laut hingga timur dengan kecepatan 15-30 knot.
Untuk saat ini, abu Anak Krakatau memang memilih menjauh. Tetapi pengalaman panjang Indonesia dengan gunung api mengajarkan satu hal sederhana, alam sering memberi tanda sebelum memberi kejutan. Karena itu, kewaspadaan tetap menjadi harga murah agar tidak membayar mahal ketika bencana benar-benar datang.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-