El Nino Brutal, Hujan Indonesia Ikut Molor, BMKG Bongkar Ancaman Kemarau Makin Panjang
BMKG memprediksi musim hujan 2026-2027 datang terlambat akibat El Nino sangat kuat dan IOD positif, dengan kemarau lebih panjang.-Foto: Antara-
Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, serta sebagian kecil Maluku.
Puncak musim hujan pada Desember juga diperkirakan terjadi di Papua Barat Daya bagian barat, sebagian kecil Papua Barat, Papua bagian utara, Papua Tengah bagian timur, serta Papua Selatan bagian barat.
Memasuki Januari 2027, giliran sejumlah wilayah lain yang diprediksi mencapai puncak musim hujan. Di antaranya Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, dan Lampung bagian utara.
Prediksi tersebut juga mencakup sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, serta sebagian Kalimantan Selatan.
Sejumlah wilayah di Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, dan beberapa wilayah di Pulau Papua juga diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027.
Sementara itu, puncak musim hujan pada Februari 2027 diperkirakan terjadi di Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa dan Bali, sebagian NTB, serta sebagian besar NTT.
Wilayah lainnya meliputi Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, serta sebagian besar Pulau Papua.
Yang bikin persoalan musim hujan tahun ini makin menarik adalah durasinya. Ardhasena mengatakan musim hujan 2026-2027 diperkirakan berlangsung lebih pendek di 482 zona musim. Wilayah tersebut mencakup sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia.
Sebaliknya, musim hujan diprediksi berlangsung lebih panjang hanya di 60 zona musim yang mencakup sekitar 8,58 persen luas daratan Indonesia. Adapun kondisi yang relatif sama dengan pola normal hanya terjadi di 40 zona musim atau sekitar 5,06 persen daratan Indonesia.
“Sedangkan yang sama dengan kondisi normal adalah pada 40 zona musim yang mencakup 5,06 persen daratan Indonesia,” ujar Ardhasena.
Dengan kata lain, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan menghadapi musim hujan yang lebih pendek. Setelah kemarau datang lebih panjang, hujan justru berpotensi datang belakangan dan pergi lebih cepat.
Kalender boleh tetap berganti bulan, tetapi cuaca punya agenda sendiri. Dan untuk musim hujan 2026-2027, agenda tersebut tampaknya belum memasukkan Indonesia sebagai prioritas.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-