ASEAN Tak Selalu Akur, Tapi Ogah Pecah! Sugiono Bongkar Jurus Jaga Persatuan di Tengah Konflik Kawasan

ASEAN Tak Selalu Akur, Tapi Ogah Pecah! Sugiono Bongkar Jurus Jaga Persatuan di Tengah Konflik Kawasan

Menlu Sugiono mengungkap cara ASEAN menjaga persatuan di tengah perbedaan kepentingan, persaingan strategis, dan dinamika kawasan.-Foto: Antara-

JAKARTA, Semaraknews.id -- Di tengah kawasan Asia Tenggara yang makin ramai oleh persaingan kepentingan, negara-negara ASEAN ternyata tidak selalu bisa kompak dalam setiap perkara. Namun, menurut Menteri Luar Negeri Sugiono, perbedaan itu tidak otomatis harus berujung pada perpecahan.

Sugiono mengatakan negara-negara ASEAN memilih tetap duduk bersama dan menjaga komunikasi, meski dalam sejumlah persoalan mereka punya pandangan yang berbeda. Bagi ASEAN, dialog menjadi semacam rem agar perbedaan kepentingan tidak berubah menjadi konflik terbuka.

"Kami tidak selalu sependapat, namun kami telah mengambil keputusan sadar untuk tetap bersatu, dan kami memilih untuk terus berkomunikasi, bahkan ketika mencapai kesepakatan terasa sulit," kata Sugiono dalam pidatonya pada Sidang Umum PBB ke-18 di New York, Amerika Serikat, seperti dikutip dari tayangan YouTube Kementerian Luar Negeri, Minggu, 27 September 2026.

Menurut Sugiono, dialog itulah yang selama ini memungkinkan negara-negara dengan sejarah, sistem politik, tingkat pembangunan, serta kepentingan nasional yang berbeda tetap berada dalam satu rumah bernama ASEAN.

Hampir enam dekade berjalan, ASEAN telah melewati berbagai perbedaan dengan menjaga komunikasi dan terus mencari titik temu. Beda pendapat boleh saja, tetapi pintu untuk ngobrol tidak boleh ditutup.

"Inilah kekuatan yang lahir dari persatuan dan sentralitas ASEAN," tutur Sugiono.

Ia mengatakan prinsip tersebut membuat negara-negara ASEAN mampu merangkul berbagai mitra sekaligus mempertahankan ruang bagi dialog dan kerja sama. Hal itu menjadi semakin penting ketika persaingan strategis di kawasan terus meningkat.

BACA JUGA:Makam Fatmawati Jadi Tujuan Terakhir Guruh Soekarnoputra

Namun, menjaga kawasan tetap solid juga tidak cukup hanya dengan mempertahankan cara lama. Sugiono menilai ASEAN harus mampu beradaptasi dengan perubahan agar tetap relevan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Oleh karena itu, ASEAN harus terus berkembang agar tetap relevan serta memberikan manfaat bagi masyarakatnya maupun kawasan yang lebih luas," ujar dia.

Menurut Sugiono, pengalaman ASEAN dalam mengelola perbedaan sebenarnya punya akar yang dekat dengan pengalaman Indonesia. Dengan penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan keragaman yang begitu luas, Indonesia juga harus berhadapan dengan persoalan yang sama, yakni bagaimana hidup bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.

Indonesia, kata dia, belajar bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus dihapus atau ditaklukkan. Perbedaan justru perlu dikelola, dihormati, dan jika memungkinkan diubah menjadi kekuatan bersama.

"Melalui partisipasi demokratis, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan, kita menjaga persatuan kita. Dari Aceh hingga Papua, dari Miangas hingga Rote, Indonesia adalah satu kesatuan masyarakat. Indonesia adalah satu bangsa," sebut dia.

Dalam kesempatan yang sama, Sugiono mengatakan Indonesia juga terus memperkuat pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia melalui mekanisme nasional serta komitmen terhadap kewajiban HAM internasional.

BACA JUGA:Hunian Mewah Bak Apartemen Terbongkar, Kalapas Cibinong Dicopot Bareng 4 Anak Buah

Upaya tersebut, menurut dia, berjalan beriringan dengan pembangunan ketahanan nasional. Sebab, persoalan HAM tidak berhenti pada absennya kekerasan. Ada kebutuhan dasar warga yang juga menjadi bagian dari persoalan hak asasi.

"Karena HAM bukan sekadar ketiadaan kekerasan, melainkan juga mencakup pemastian akses masyarakat terhadap pangan, pendidikan, dan layanan kesehatan," ujar dia.

Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News

Tag
Share
Berita Lainnya