Misterius! Jokowi Pilih Tersenyum Saat Ditanya Soal Utang Kereta Cepat Whoosh Tembus Rp116 Triliun: 'Hmmm...!'

Minggu 19-10-2025,19:05 WIB
Reporter : Darmawan
Editor : Darmawan

SEMARAKNEWS.CO.ID - Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), kembali menjadi sorotan publik usai menunjukkan sikap santai namun penuh makna ketika ditanya soal perkembangan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.

Dalam sebuah momen yang terekam kamera, Jokowi hanya memberikan gumaman singkat “hmmm” disertai senyum tipis saat seorang wartawan menanyakan soal kabar terbaru proyek Whoosh yang disebut-sebut tak lagi menggunakan dana APBN.

Momen ini terjadi Jumat, 17 Oktober 2025, di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dalam acara Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan.

“Pak, terkait Whoosh sekarang tidak pakai APBN itu tanggapannya gimana, Pak?” tanya seorang wartawan.

Jokowi hanya tersenyum dan menjawab singkat, “Hmmm,” tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

BACA JUGA:Drama Tambang Cigudeg: Kades Ngaku Punya 9 Tambang, Dedi Mulyadi Langsung Semprot: ‘Audit Dulu, Jangan Main Buka!

Senyum kecil itu justru menjadi simbol seribu makna, seolah menggambarkan sikap hati-hati Jokowi dalam menanggapi proyek besar yang kini menjadi sorotan nasional karena beban utang yang membengkak.

Proyek Whoosh, Kebanggaan Jokowi yang Kini Jadi Sorotan

Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh adalah salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digagas di masa pemerintahan Jokowi.

Diresmikan pada 2 Oktober 2023, kereta cepat ini menjadi yang pertama di Indonesia sekaligus Asia Tenggara, dengan kecepatan mencapai 350 km/jam.

Nama “Whoosh” sendiri merupakan singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat — cerminan ambisi pemerintah untuk menghadirkan transportasi publik modern, efisien, dan ramah lingkungan.

Namun, di balik pencapaian itu, proyek ini kini tengah menghadapi beban keuangan besar.

Total investasi proyek mencapai 7,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp116 triliun, naik dari estimasi awal sebesar 6,07 miliar dolar AS.

Sebagian besar pembiayaan proyek ini, yakni 75 persen, bersumber dari pinjaman China Development Bank (CDB).

Sisanya berasal dari modal para pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Utang Membengkak, PT KAI Tanggung Beban Terbesar

Pembengkakan biaya proyek Whoosh memunculkan cost overrun hingga 1,2 miliar dolar AS (sekitar Rp19,5 triliun).

Kondisi ini menyebabkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium PSBI (Pilar Sinergi BUMN Indonesia) harus menanggung beban keuangan besar.

Menurut laporan semester I 2025, PT KAI mencatat kerugian Rp951,48 miliar, dari total kerugian PSBI sebesar Rp1,625 triliun.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, bahkan menyebut utang proyek Whoosh sebagai “bom waktu” yang harus segera diatasi.

“Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk masalah KCIC ini, terutama kami dalami juga. Ini bom waktu,” ujar Bobby dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, Agustus 2025.

BACA JUGA:Komnas HAM Kecam Kekerasan Satgas Koops Habema di Intan Jaya, Desak Pemerintah Tinjau Ulang Pendekatan Keamanan di Papua

Siapa Pengelola Proyek Whoosh?

Proyek kereta cepat ini dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) — perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia dan China.

  • Konsorsium Indonesia: PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) (60%)

    • PT KAI: 58,53%

    • Wijaya Karya: 33,36%

    • Jasa Marga: 7,08%

    • PTPN VIII: 1,03%

  • Konsorsium China (Beijing Yawan HSR Co. Ltd): 40%

    • CREC: 42,88%

    • Sinohydro: 30%

    • CRRC: 12%

    • CRSC: 10,12%

    • CRIC: 5%

Dengan struktur kompleks ini, proyek Whoosh menjadi simbol kerja sama bilateral antara Indonesia dan China, namun juga meninggalkan beban finansial besar bagi BUMN Tanah Air.

APBN Tak Akan Dipakai Bayar Utang Whoosh

Di tengah polemik keuangan proyek Whoosh, muncul usulan agar utang KCIC dibayar menggunakan APBN.

Namun, usulan itu langsung ditolak tegas oleh Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurut Purbaya, proyek Whoosh dikelola oleh BUMN yang kini berada di bawah naungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Artinya, pembiayaan harus diselesaikan oleh internal korporasi, bukan oleh pemerintah.

“Danantara itu sudah punya manajemen dan dividen sendiri. Jangan kita lagi yang menanggung, karena ini sudah ranah swasta dan government dipisahkan,” tegas Purbaya dalam acara Media Gathering di Bogor (10/10/2025).

Ia menambahkan bahwa Danantara telah mengantongi Rp80 triliun dari dividen dalam setahun, sehingga seharusnya cukup kuat untuk menutup kewajiban KCIC tanpa perlu menarik dana negara.

Jokowi Hadiri Dies Natalis UGM, Enggan Bahas Isu Politik

Terlepas dari isu Whoosh, Jokowi hadir di Fakultas Kehutanan UGM bukan untuk bicara soal politik atau utang proyek, melainkan untuk memenuhi undangan akademis yang datang langsung dari Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta.

“Sebulan yang lalu saya mendapatkan undangan diantar langsung oleh Pak Dekan dan jajaran dosen dari Fakultas Kehutanan ke rumah,” kata Jokowi kepada awak media.

Kehadiran Jokowi di kampus UGM seolah menjadi bentuk nostalgia dengan dunia pendidikan dan kehutanan — sektor yang dulu juga menjadi perhatian Jokowi sejak awal kariernya di Solo.

 

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa senyum “hmmm” Jokowi hari itu justru menjadi headline nasional, mencerminkan posisi dilematis seorang mantan presiden terhadap proyek ambisius yang kini membebani negara.

Kategori :