Kisah Hidup Pakubuwono XIII: Dari Perebutan Takhta hingga Pemersatu Keraton Surakarta

Senin 03-11-2025,12:54 WIB
Reporter : Jeany Pohan
Editor : Priya Satrio

Meski begitu, Hangabehi tetap melangsungkan penobatannya pada 10 September 2004 di Bangsal Manguntur Tangkil, Sitihinggil Lor.

Upacara berlangsung khidmat, disaksikan para bangsawan, cucu-cucu PB XII, dan utusan kerajaan dari berbagai daerah. Dukungan dari tiga sesepuh keraton memperkuat legitimasi Hangabehi sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono XIII.

BACA JUGA:4 Promo Terbaru yang Berlaku Hingga 31 November 2025: Ada Mister Donut!

Membangun Kembali Martabat Keraton

Masa pemerintahannya tidak mudah. PB XIII mewarisi keraton yang terbelah dan harus berjuang memulihkan wibawa istana di tengah sorotan publik. Meski menghadapi banyak tantangan, ia tetap berpegang pada misi pelestarian budaya Jawa.

Di bawah kepemimpinannya, upacara adat, tari klasik, dan pembinaan abdi dalem terus dijalankan. Ia berupaya menjaga agar napas tradisi Mataram tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Salah satu momen bersejarah terjadi pada Juli 2009, saat digelar upacara jumenengan sebagai penegasan masa pemerintahannya.

Tari Bedhaya Ketawang, tarian sakral yang hanya dipersembahkan bagi raja berdaulat, kembali ditampilkan. Menariknya, Tedjowulan turut hadir dalam upacara tersebut — isyarat awal menuju perdamaian.

BACA JUGA:BMKG Peringatkan Puncak Musim Hujan 2025: Jabodetabek Waspada Hujan Lebat dan Banjir!

Rekonsiliasi dan Warisan Persatuan

Perdamaian akhirnya terwujud pada tahun 2012, setelah mediasi panjang yang melibatkan DPR RI, Pemerintah Kota Solo di bawah kepemimpinan Joko Widodo, serta keluarga besar keraton.

Hasilnya, Tedjowulan mengakui Hangabehi sebagai Pakubuwono XIII yang sah, dan menerima gelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung sekaligus jabatan Mahapatih. Momen ini menjadi titik balik bagi pemulihan harmoni di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Di bawah kepemimpinan PB XIII, keraton kembali berperan sebagai pusat kebudayaan dan spiritualitas Jawa. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, penuh welas asih, dan mampu merangkul berbagai pihak.

BACA JUGA:Penjualan BYD Turun 12% pada Oktober 2025, Persaingan Mobil Listrik China Makin Ketat

Teladan Sang Raja

Selama dua dekade memimpin, Pakubuwono XIII dikenang sebagai raja yang menjaga persatuan dan keluhuran budaya. Ia tidak hanya membangun kembali martabat keraton, tetapi juga menanamkan nilai “ngayomi” — semangat melindungi dan mempersatukan.

Wafatnya PB XIII menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Solo dan seluruh trah Mataram. Namun, warisan yang ia tinggalkan tetap abadi: semangat menjaga harmoni, martabat, dan kebesaran budaya Jawa di tengah arus perubahan zaman.

Kategori :