BMKG Peringatkan Puncak Musim Hujan 2025: Jabodetabek Waspada Hujan Lebat dan Banjir!
Aksesoris Wajib Untuk Mobil Anda Saat Musim Hujan-rawpixel.com-freepik
SEMARAKNEWS.CO.ID - Indonesia kini resmi memasuki musim hujan 2025, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tidak lengah.
Dalam beberapa hari terakhir, wilayah Jabodetabek dilanda hujan deras yang menyebabkan genangan dan banjir di sejumlah titik.
Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, pekan depan berpotensi terjadi hujan sedang hingga sangat lebat di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Jawa bagian barat dan tengah.
Hal ini menandai dimulainya puncak musim hujan nasional yang diperkirakan berlangsung dari November 2025 hingga Februari 2026.
“Pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026 akan menjadi fase puncak musim hujan utama bagi sebagian besar wilayah Indonesia. Saat itu, curah hujan tinggi dan potensi bencana hidrometeorologi bisa meningkat,” ujar Dwikorita, dikutip dari laman resmi BMKG, Senin (3/11/2025).
BACA JUGA:Peserta Transmigrasi 2025 Dapat Lahan 2 Hektare dan Rumah Bersertifikat Hak Milik
43,8 Persen Wilayah Indonesia Sudah Masuk Musim Hujan
BMKG mencatat, hingga awal November 2025, sebanyak 306 zona musim (ZOM) atau sekitar 43,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan.
Puncak musim hujan akan terjadi bertahap dari barat ke timur, dimulai di Sumatra dan Jawa kemudian bergerak menuju Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua pada awal 2026.
Dwikorita menjelaskan, aktivitas siklon tropis di wilayah selatan Indonesia juga mulai meningkat. Hal ini dapat memicu hujan sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi, terutama di pesisir Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Cuaca Ekstrem di Jabodetabek dan Pulau Jawa
Selama beberapa hari terakhir, curah hujan tinggi terjadi di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Yogyakarta. Hujan lebat disertai petir menyebabkan genangan di sejumlah titik padat penduduk dan rawan banjir, seperti Jakarta Timur, Bekasi, dan Bogor.
“Kondisi atmosfer saat ini sangat labil dan kaya uap air akibat aktifnya monsun Asia serta suhu muka laut yang hangat,” jelas Dwikorita.
“Curah hujan 80–150 mm per hari sudah terjadi di beberapa wilayah. Ini sinyal kuat bahwa kita harus meningkatkan kesiapsiagaan,” tambahnya.
BMKG memperkirakan cuaca berawan hingga hujan intensitas ringan hingga sedang akan mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Namun, hujan sedang hingga sangat lebat (kategori siaga) berpotensi terjadi di:
-
Aceh, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Sumatra bagian selatan
-
Pulau Jawa (Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta)
-
Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Dilakukan untuk Kendalikan Curah Hujan
BACA JUGA:Budi Arie Tegaskan Nama Projo Bukan Singkatan dari Pro-Jokowi, Siap Dukung Pemerintahan Prabowo
Untuk mengurangi risiko banjir dan bencana hidrometeorologi, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di beberapa wilayah strategis.
OMC dilakukan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.
-
Di Jawa Tengah, operasi sudah dilakukan sejak 25 Oktober dari Posko Semarang dan Solo, dengan 41 sorti penerbangan menggunakan pesawat Cessna Caravan.
-
Di Jawa bagian barat, kegiatan serupa dimulai 23 Oktober dari Posko Jakarta, dan sudah mencatat 29 sorti penerbangan.
Langkah ini terbukti efektif dalam meredistribusi dan mengurangi intensitas hujan ekstrem di wilayah sasaran.
“OMC bertujuan untuk menurunkan risiko bencana akibat curah hujan ekstrem, terutama di wilayah padat penduduk,” ujar Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG.
Fenomena Atmosfer Penyebab Hujan Lebat
Menurut BMKG, peningkatan curah hujan saat ini tidak terjadi secara kebetulan. Ada sejumlah fenomena atmosfer aktif secara bersamaan, yang memperkuat potensi hujan di Indonesia:
-
Madden-Julian Oscillation (MJO) – gelombang atmosfer tropis yang meningkatkan pembentukan awan hujan.
-
Gelombang Rossby dan Kelvin – memicu gangguan cuaca dan pertumbuhan awan di wilayah tropis.
-
Anomali suhu muka laut hangat – memperkaya uap air di atmosfer, meningkatkan intensitas hujan.
-
Aktivitas siklon tropis di selatan Indonesia – menimbulkan hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Kombinasi faktor-faktor ini menjadikan atmosfer Indonesia sangat aktif dan rentan terhadap cuaca ekstrem, terutama di wilayah barat hingga tengah nusantara.
BMKG dan BNPB Serukan Kesiapsiagaan
BMKG mengingatkan agar pemerintah daerah, masyarakat, dan lembaga terkait meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang.
Langkah sederhana seperti membersihkan saluran air, menjaga drainase, serta tidak membuang sampah ke sungai bisa membantu mencegah banjir.
Masyarakat juga diimbau untuk memantau peringatan dini cuaca dari BMKG melalui aplikasi Info BMKG atau kanal media sosial resmi.
“Jangan menunggu bencana datang baru bertindak. Kita semua harus waspada sejak dini,” tegas Dwikorita.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-