Sepanjang malam itu, Lubdaka mulai merenungi kehidupannya. Ia menyesali segala perbuatan buruk yang pernah dilakukan dan bertekad untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pemburu. Saat pagi tiba, Lubdaka pulang ke rumah dan benar-benar mengubah jalan hidupnya dengan menjadi seorang petani.
Pengampunan Dosa dan Anugerah Dewa Siwa
Seiring waktu, tubuh Lubdaka melemah dan akhirnya ia meninggal dunia. Roh Lubdaka pun melayang tanpa arah, hingga pasukan Cikrabala datang untuk membawanya ke neraka karena dosa-dosa pembunuhan yang pernah ia lakukan semasa hidup.
AKan tetapi sebelum roh Lubdaka dibawa ke neraka, Dewa Siwa hadir dan mencegahnya.
Dengan penuh kebijaksanaan, Dewa Siwa menjelaskan bahwa meskipun Lubdaka banyak melakukan dosa, niatnya adalah untuk menghidupi keluarga.
Lebih dari itu, ia telah menjalankan tapa brata Siwaratri dan sungguh-sungguh bertobat serta mengubah hidupnya.
Atas dasar ketulusan hati dan pengendalian diri yang dilakukannya, Dewa Siwa menganugerahkan pengampunan kepada Lubdaka. Roh Lubdaka pun akhirnya dibawa menuju Siwaloka (surga) sebagai bukti bahwa pertobatan sejati selalu mendapatkan jalan keselamatan.
Makna Siwaratri bagi Umat Hindu
Kisah Lubdaka mengajarkan bahwa Siwaratri bukan sekadar ritual, melainkan momen untuk menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Hari suci ini mengingatkan umat Hindu bahwa perubahan diri menuju kebaikan selalu mungkin, selama dilakukan dengan kesadaran, ketulusan, dan pengendalian diri.