Tak Sekadar Ritual, Ini Makna Hari Raya Siwaratri dan Pelajaran Hidup dari Kisah Lubdaka
Kisah Lubdaka pada Malam Siwaratri, Bukti Bahwa Setiap Dosa Masih Bisa Diampuni---Dok. Istimewa
BALI, SEMARAKNEWS.CO.ID - Dalam ajaran agama Hindu, terdapat sebuah hari suci yang sarat makna spiritual, yaitu Hari Raya Siwaratri.
Perayaan ini dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada Purwaning Tilem Kapitu dalam penanggalan Saka.
Siwaratri menjadi momen penting bagi umat Hindu untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa.
Secara etimologis, kata Siwaratri berasal dari dua kata, yakni Siwa dan Ratri.
Siwaratri dimaknai sebagai malam penyucian diri, malam pelebur kegelapan batin, serta saat untuk menempuh jalan menuju cahaya kesadaran dan kebenaran.
BACA JUGA:Jangan Asal Beli! Ini Cara Mengecek Kondisi iPhone Bekas Agar Tidak Tertipu
Malam ini dipandang sebagai waktu yang sangat suci untuk melakukan introspeksi, tapa brata, dan pengendalian diri.
Makna mendalam Siwaratri tak lepas dari kisah Lubdaka, sebuah cerita klasik yang ditulis oleh Mpu Tanakung dalam kitab Siwaratrikalpa.
Kisah ini mengajarkan bahwa setiap manusia, seberat apa pun dosa yang pernah dilakukan, tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh pengampunan jika sungguh-sungguh bertobat dan menempuh jalan dharma.
BACA JUGA:Harga Emas Antam Sabtu Pagi Belum Bergerak, Ini Waktu Tepat untuk Investasi?
Kisah Lubdaka pada Malam Siwaratri
Dikisahkan, Lubdaka adalah seorang pemburu yang hidup dari hasil buruan hutan. Setiap hari ia berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, pada suatu hari, nasib buruk menimpanya.
Seharian penuh berburu, ia tidak mendapatkan seekor binatang pun. Tanpa disadari, hari telah beranjak malam dan kegelapan menyelimuti hutan.
Karena takut menghadapi binatang buas dan tidak mengetahui jalan pulang, Lubdaka memutuskan untuk bermalam di hutan. Ia menemukan sebuah pohon bila (wilwa) yang besar dan memanjatnya demi keselamatan. Di bawah pohon tersebut terdapat sebuah telaga jernih dengan Lingga Siwa di tengahnya.
Dalam keadaan lelah dan mengantuk, Lubdaka berusaha keras agar tidak tertidur. Ia khawatir jika terlelap, tubuhnya akan jatuh dari pohon. Untuk menjaga kesadarannya, ia memetik daun-daun pohon bila dan menjatuhkannya ke bawah. Daun-daun itu tanpa sengaja mengenai Lingga Siwa.
Temukan konten semaraknews.co.id menarik lainnya di Google News
- Tag
- Share
-